Minggu, 27 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 029: Surat Al An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Shafar 1442 H / 28 September 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 029: Surat Al An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-029
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM AYAT 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Yang kedua adalah:

والنَّفْس بِالنَّفْسِ

⑵ Orang yang membunuh maka dibalas dengan bunuh. 

Jiwa dibalas dengan jiwa, (maksudnya) jika seseorang membunuh, maka di sana ada hukum qishash. 

Jika seorang membunuh, maka balasannya adalah dibunuh, tentunya sesudah disidangkan di depan hakim bahwasanya telah terjadi pembunuhan.

Dalam hal ini pembunuhan itu ada (istilahnya):

① Al amdu

Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, baik dengan pistol, pedang, atau pisau, menusukkan kepada lawannya, maka sifat pembunuhan ini adalah sengaja (al amdu).

② Syibhu amdi

Suatu pembunuhan yang sifatnya seperti disengaja. 

Contoh: 

Seseorang marah kepada temannya kemudian mengambil lidi dan lidi tersebut dipecutkan (disabetkan) kepada temannya, ternyata pecutan lidi tersebut membuat temannya meninggal. Padahal wajarnya orang yang dipecut (sabet) menggunakan lidi tidak akan meninggal, tapi ketika dipecut (sabet) dengan lidi, dia meninggal, maka ini namanya syibhu al amdi (pembunuhan yang sifatnya seperti sengaja)

③ Al khata'

Pembunuhan yang sifatnya khatha' yaitu seseorang melakukan suatu kesalahan padahal tidak ada unsur kesengajaan. 

Contoh: 

Seseorang menembak burung atau seseorang menembak kijang atau seseorang menembak burung kalkun yang liar. Tatkala dia menembak burung tersebut tembakannya mengenai petani yang sedang mencangkul, maka di sini adalah pembunuhan yang sifatnya adalah salah. 

Dalam hal ini orang yang membunuh dengan tidak sengaja, maka punya kewajiban untuk dihadirkan ke pengadilan. Pengadilan akan memutuskan sesudah melewati proses yang panjang. 

Dan tentunya di sana boleh ada penawaran, yaitu jika keluarga yang terbunuh memaafkan maka di sini akan ada hukum lain, keluarga yang membunuh (si pembunuh wajib) untuk membayar denda berupa 100 ekor unta.

Satu ekor unta kurang lebih seharga 20 sampai 40 juta, menunjukkan jiwa itu mahal. Dan demikianlah seorang muslim senantiasa menjaga kehormatan dan jiwa

Maka Allāh menyebutkan :

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًۭا

_"Siapa yang membunuh satu orang maka seakan-akan membunuh semua orang yang ada di dunia ini dan barangsiapa menjadikan seseorang hidup maka seakan-akan membuat hidup semua yang ada di dunia."_

(QS Al Maidāh:32)

Bagi mereka yang dimaafkan, maka orang yang memberikan maaf berhak untuk mendapatkan imbalan. Orang yang memberikan maaf atau keluarga yang terbunuh akan mendapatkan imbalan yaitu 100 ekor unta dari keluarga pembunuh tadi.

Kalau ternyata keluarga yang terbunuh, tidak mau memberikan maaf padahal si pembunuh mau membayar denda 100 ekor unta, maka yang berlaku adalah apa yang dikehendaki oleh keluarga yang terbunuh.

Kalau dia berkata, "Saya tidak mau dibayar dengan 100 ekor unta atau  200 ekor unta, saya mau yang membunuh harus dibunuh," maka hukum terakhir adalah dibunuh.

Maka di sini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan:

وَلَا تَقۡتُلُوا۟ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِی حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ

_Dan janganlah kalian membunuh satu jiwa yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla haramkan kecuali dengan hak._

Kemudian:

والتَّارِك لِدِينِهِ الْمُفَارِق لِلْجَمَاعَةِ

⑶ Orang yang meninggalkan agamanya, yang keluar dari jama'āh.

Allāh menyebutkan:

 ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

_"Yang demikian, Allāh mewasiatkan dengannya agar kalian berakal.”_

Berkata Ibnu  Athiyah:

ذلكم إشارة إلى هذه المحرمات 

_Isyarat kepada perkara-perkara yang diharamkan berikut ini._

والوصية الأمر المؤكد المقرر 

_Wasiat adalah perkara yang sudah pasti dan ditetapkan._

Tidaklah Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan wasiat kecuali agar seseorang senantiasa berakal, karena sesungguhnya di dalam perkara ini ada nilai (sifat yang baik) bagi orang-orang yang mau berpikir.

Kenapa seseorang disuruh menyembah Allāh?

Karena Allāh Dzat yang Maha Menciptakan, makan akal akan menerima bahwasannya sewajarnya manusia beribadah kepada Allāh. Demikianlah orang yang berakal. 

Tatkala kita berbicara terkait dengan berbuat baik kepada orang tua, maka orang yang berakal akan bisa memahami dengan baik, bahwasanya keberadaan dia tidak lepas dari keberadaan orang tua. 

Sehingga orang berakal, akan memahami bahwasanya adanya dia karena adanya orang tua. 

Wallāhu Ta'āla A'lam 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
_______________

Kamis, 03 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 028: Surat Al-An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 15 Muharram 1442 H / 03 September 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 028: Surat Al-An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-028
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Allāh menyebutkan di dalam Al Qur'ān :

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ

_"Dan janganlah kalian mendekati perbuatan keji.”_

⇒ Al fawāhisy maksudnya hal-hal yang keji.

Di sini Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan penjelasanan bahwa al fawāhisy adalah:

مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

_Perbuatan yang nampak atau tidak nampak (nampak di hadapan orang atau sembunyi-sembunyi)._

وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ

_Dan janganlah kalian membunuh satu jiwa yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla haramkan kecuali dengan hak._


Allāh menyebutkan:

وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ

_"Dan janganlah kalian membunuh jiwa.”_

Seorang muslim harus memahami bahwasanya seorang muslim itu harus menjaga 5 hal.

Yaitu : 
⑴ Hifzhu ad dīn (menjaga agama)
⑵ Hifzhu an nafs (menjaga jiwa)
⑶ Hifzhu al māl (menjaga harta)
⑷ Hifzhu al ‘ird  (menjaga kehormatan)
⑸ Hifzhu an nasab (menjaga nasab)


• Hifzhun an nasab

Seseorang mempunyai kewajiban untuk menjaga nasab, (maksudnya) bagaimana caranya dia memiliki keturunan dengan jalan yang benar.


• Hifzhu al ‘ird

Seseorang mempunyai kewajiban untuk menjaga kehormatan, (maksudnya) jangan sampai dia terjerumus kepada perkara perzinahan.


• Hifzhu al māl

Seseorang mempunyai kewajiban untuk menjaga harta, (maksudnya) seseorang wajib menjaga hartanya, karena harta adalah amanah.

Sebagaimana firman Allāh:

ثمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

_"Ingat suatu saat nanti nikmat yang telah kami anugerahkan kepada kalian akan kami pertanyakan."_

(QS At Takastsur: 8)

Maka disini seorang wajib menjaga hartanya.


• Hifzhu ad dīn

Agama wajib di jaga. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ 

_"Islām sudah sempurna maka kita wajib menjaga kesempurnaan agama ini."_

(QS Al Maidāh:3)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 1718)


• Hifzhu an nafs

Seseorang wajib menjaga jiwa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ

_"Dan janganlah kalian membunuh jiwa.”_

Karena jiwa seorang muslim terjaga, sebagaimana pernyataan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam sebuah hadīts yang marfu':

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّب الزَّانِي، والنَّفْس بِالنَّفْسِ، والتَّارِك لِدِينِهِ الْمُفَارِق لِلْجَمَاعَةِ

_"Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan kecuali Allāh dan Muhammad adalah rasūl, Allāh kecuali dengan tiga hal:"_

_⑴ Seorang tsayyib (laki-laki atau wanita) yang statusnya menikah atau pernah menikah kemudian dia berzinah. (2) membunuh satu jiwa, (3) meninggalkan agama dan memberontak dari pemerintah yang sah._

Tiga hal yang bisa menyebabkan seseorang jiwa dan hartanya tidak terjaga.

الثَّيِّب الزَّانِي

_⑴ Seorang tsayyib (laki-laki atau wanita) yang statusnya menikah atau pernah menikah kemudian dia berzinah._ 

Maka darahnya halal untuk tumpahkan (dirajam).

Seorang laki-laki atau wanita yang sudah pernah menikah, dan telah ditetapkan di depan hakim bahwa dia sudah benar-benar berzinah, maka badannya dililit dengan kain lalu diikat kemudian dimasukan ke dalam tanah sedalam (kurang lebih) 1 pusar lalu di dia dilempari dengan batu (batu tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar) dan ditunggu sampai orang tersebut mati.

Batu yang digunakan adalah batu yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
________

Rabu, 02 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 027: Surat Al Al An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 14 Muharram 1442 H / 02 September 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 027: Surat Al Al An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-027
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'AM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُمْ مِّنْ إمْلاَقٍ

_"Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin."_

Dalam ayat lain: 

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَـٰدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَـٰقٍۢ.

_"Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin."_

Allāh berfirman:

نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ.

_"Kamilah yang memberikan rezeki kepada mereka dan (Kamilah yang memberikan rezeki kepada) kalian."_

Maka orang jawa mengatakan, "Akeh anak, banyak rezeki."

Karena sesungguhnya kehadiran anak membawa rejeki, sehingga orang tua tidak perlu khawatir dengan memiliki banyak keturunan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

_"Hendaknya kalian menikahi wanita yang penyantun (wanita yang memiliki kasih sayang), wanita yang senantiasa memiliki keturunan. Karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat."_

Hendaknya seorang muslim memiliki keinginan yang tinggi untuk memiliki keturunan dan bagi mereka yang sudah memiliki keturunan Alhamdulillāh, yang baru mau mempunyai keturunan Alhamdulillāh yang belum memiliki keturunan maka tidak boleh putus asa karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ 

_"Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allāh.”_

(QS Yūsuf:87)

Jika seseorang memiliki anak laki-laki, itu adalah kehendak Allāh, seseorang memiliki anak wanita itu adalah kehendak Allāh.

Allāh menyebutkan:

يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ۞ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ ۞ 

_"Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.”_

(QS Asy Syura: 49-50)

⇒ Yang dimaksud dengan: عَقِيمًاۚ , adalah seseorang yang tidak memiliki keturunan.

Maka di sini tidak boleh seseorang mengumpat temannya atau saudaranya karena mereka tidak memiliki keturunan karena sungguh itu adalah bagian daripada takdir. Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan ujian kepada siapa saja yang Allāh kehendaki.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

نَحْنُ نَرْزُقُكم وَإِيَّاهمْ

Salah satu di antara kebiasaan orang-orang Jāhilīyyah, mereka membunuh anak laki-laki mereka karena mereka takut miskin dan mereka membunuh anak wanita mereka karena mereka berkata: خشية العار (khasyyata al ‘ār)

Yang dimaksud: خشية العار (khasyyata al ‘ār) adalah mereka membunuh anak wanita karena mereka takut aib. Padahal yang namanya anak adalah karunia Allāh, baik anak laki-laki maupun anak wanita.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ 

_"Dan janganlah kalian mendekati perkara-perkara keji."_

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
________

Selasa, 01 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 026: Surat Al An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 13 Muharram 1442 H / 01 September 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 026: Surat Al An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-026
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM AYAT 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Ikhwāh Fīllāh rahimakumullāh.

Kembali kita lanjutkan pembahasan yang lewat masih pada kitāb Tauhīd.

Hari ini kita akan membahas firman Allāh yang pada pembahasan yang lewat, telah kita sampaikan di surat Al An'ām 151.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

قُلۡ تَعَالَوۡا۟ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَیۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوَ ٰلِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰاۖ وَلَا تَقۡتُلُوۤا۟ أَوۡلَـٰدَكُم مِّنۡ إِمۡلَـٰقࣲ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِیَّاهُمۡۖ وَلَا تَقۡرَبُوا۟ ٱلۡفَوَ ٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ وَلَا تَقۡتُلُوا۟ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِی حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ذَ ٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ۞

_Katakanlah (Wahai Muhammad), "Kemarilah aku akan membacakan apa saja yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla haramkan atas kalian."_

_"Janganlah kalian menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.”_

_"Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua.”_

_"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Sungguh kami yang akan memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka (anak-anak kalian)."_

_"Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi."_

_"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar."_

_Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)._

(Al An'ām : 151)

Perkara haram yang Allāh canangkan, adalah: 

أَلَّا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ

_"Janganlah kalian menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.”_

Perintah Allāh yang paling agung adalah beribadah kepada-Nya dan larangan yang paling besar adalah seseorang hendaknya tidak menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan sesuatu apapun.

Karena Dia-lah (Allāh) Dzat yang telah berfirman:

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

_"Allāh tempat bergantung.”_

(QS Ikhlās : 2)

Hendaklah seorang muslim menggantungkan dirinya, menggantungkan urusannya hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan kepada yang lainnya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan suatu pernyataan:

إتّقوا المُهْلِكَاتٌ

_"Jauhilah hal-hal yang bisa membuat kalian  binasa."_

Maka perkara yang pertama disebut adalah syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan: 

 ألَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ 

_"Maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar di antara dosa besar yang ada?"_

Tatkala sahabat berkata, "Tentu kami siap untuk mengetahui, apakah perkara itu wahai Rasūlullāh?"

Kemudian beliau menyebutkan:

 الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ

_"Janganlah kalian menyekutukan Allāh.”_

Kemudian Allāh berfirman:

وَبِٱلۡوَ ٰلِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰاۖ

_"Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua.”_

Imam Al Quthubi di dalam Kitāb Fathul Majid, jilid I hal 96 mengatakan : 

الإحسان إلى الوالدين برهما و حفظهما و صيانتهما، امتثال أمرهما، وإزالة الرق عنهما، وترك السلطنة عليهما 

_Yang dimaksud: الإحسان إلى الوالدين , adalah berbuat baik kepada orang tua (bapak dan ibu) menjaganya dan berusaha untuk senantiasa  memberikan pengawasan atasnya, melaksanakan apa yang menjadi diperintahnya. Jika mereka statusnya budak, maka hendaknya dimerdekakan dan meninggalkan hal-hal yang membuat keduanya tidak suka_

Maka di sini orang tua memiliki kedudukan yang tinggi terhadap anak.

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

_Seorang laki-laki datang kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sambil berkata:_ 

_“Wahai Rasūlullāh, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”_

_Beliau menjawab: “Ibumu.”_

_Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”_

_Beliau menjawab: “Ibumu.”_

_Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?”_

_Beliau menjawab: “Ibumu.”_

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” 

_Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu."_

Di sini disebutkan berbuat baik kepada ibu tiga kali, setelah itu barulah berbuat baik kepada ayah.

Kenapa seorang ibu mendapatkan kemuliaan dengan tiga kali ?

Karena:
√ Ibu adalah wanita yang telah mengandungnya. 
√ Ibu adalah wanita yaang melahirkannya. 
√ Ibu adalah orang yang telah menyusuinya.

Maka tiga hal yang harus kita ketahui bersama bahwasanya hak ibu lebih besar dibanding dengan hak ayah.

Allāh menyebutkan: 

وَبِٱلۡوَ ٰلِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰاۖ

_"Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua.”_

Maka dikatakan: 

واحسنوا  بالوالدين إِحۡسَـٰنࣰاۖ

_"Berbuat baiklah kepada orang tua kalian.”_

Disini menggunakan: إِحۡسَـٰنࣰاۖ , tidak dikatakan: الإحسان, karena jika dikatakan: الإحسان , maka kebaikan itu terbatas. Tetapi tatkala dikatakan: إِحۡسَـٰنࣰاۖ , maka kebaikan itu sifatnya adalah umum. 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
________

Minggu, 30 Agustus 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 025: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 12 Muharram 1442 H / 31 Agustus 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 025: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-025
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL-AN'AM AYAT 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Ikhwāh wa Akhawātiy rahimakumullāh, pendengar BiAS yang kami muliakan. 

وقوله: وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُمْ مِّنْ إمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكم وَإِيَّاهمْ {الأنمام:١٥١} الإملاق الفقر .
  
_Firman Allāh: "Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Sungguh kami yang akan memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka (anak-anak kalian)." (QS Al An'ām:151)_

_Yang dimaksud dengan al Imlāq adalah al faqr (kemiskinan)._

أي لا تئدوا بناتكم خشية العيلة والفقر فإني رازقكم وإياهم

_"Janganlah kalian mengubur hidup-hidup anak perempuan kalian karena kalian takut aib dan miskin. Sesungguhnya Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada kalian dan mereka.”_

 . وكان منهم من يفعل ذلك بالإناث والذكور خشية الفقر، ذكره القرطوبي  


_Dan diantara mereka ada yang membunuh anak laki-laki dan anak perempuan karena takut miskin._

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

 يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ۞ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ ۞ 

_“Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.”_

(QS Asy Syura: 49-50)

Ada sebagian pasangan (suami istri) diberikan karunia oleh Allāh 4 orang anak semuanya  wanita, ada yang diberi 5 orang anak semuanya laki-laki. Dan ada juga yang Allāh karuniakan anak laki-laki dan wanita. Dan Allāh menghendaki menjadikan suami istri mandul.

Orang Quraisy memiliki kebiasaan buruk, ketika mereka memilik anak wanita, mereka membunuh anak wanita tersebut karena menurut mereka memiliki anak wanita adalah aib. Mereka beranggapan bahwa anak wanita akan memerlukan biaya yang besar.

Suami istri jika punya anak wanita, ragadnya (biaya yang harus dikeluarkan) itu banyak, belum lagi kalau, mohon maaf, jika  sudah mulai besar, kadang wanita beda dengan laki-laki.

Perempuan itu tasnya punya empat, mungkin sandalnya punya tiga, sepatunya punya dua. Kemana dia pergi, baju, jilbab, sepatu kadang disesuaikan. Cocok atau tidak.

Coba laki-laki, laki-laki ke undangan pakai baju batik, ke masjid pakai baju batik, rapat RT juga kadang pakai baju batik.

Orang-orang Jāhilīyyah beranggapan bahwa wanita menghabiskan banyak biaya begitu mereka besar. Mereka tidak bisa diajak berperang, tidak bisa pula diajak berburu. Sehingga mereka membunuh anak-anak wanita mereka, sejak anak-anak itu masih kecil.

Sementara sebagian orang Jāhilīyyah tatkala mereka mempunyai anak laki-laki mereka khawatir dengan rezeki yang mereka miliki akan berkurang.

Kenapa? 

Karena gara-gara mempunyai anak banyak, rezeki mereka berkurang, karena rezeki akan mengalir kepada anak-anak mereka. Sehingga mereka kekurangan.

Padahal Allāh tegaskan disini: "Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kami akan memberikan rezeki kepada mereka.”

Ini menunjukkan bahwa lahirnya anak membawa rezeki sehingga orang Jawa mengatakan: "Okeh anak okeh rezeki."

و في الصحيحين عن ابن مسعود قال : قُلتُ: يا رَسولَ اللَّهِ، أيُّ الذَّنْبِ أعْظَمُ؟ قالَ: أنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وهو خَلَقَكَ قُلتُ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: وأنْ تَقْتُلَ ولَدَكَ خشية أن يطعم معك؟ قالَ ثُمَّ أيٌّ؟ قال : أنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ. ثم تلا رسول الله ﷺ : وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا {الفرقان:٦٧}

_Dalam Shahihain, suatu saat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah ditanya dan yang pertama bertanya adalah Abdullāh bin Mas’ūd. Beliau berkata:_

_"Wahai Rasūlullāh, dosa apakah yang paling besar?"_

_Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Engkau menjadikan Allāh sekutu dalam hal peribadatan, padahal Dia-la Allāh Dzat Yang Maha Menciptakan (Allāh-lah yang telah menciptakanmu)."_

_Kemudian Abdullāh bin Mas'ūd bertanya lagi:_ 

_"Lalu apa lagi wahai Rasūlullāh?"_

_Beliau bersabda:_

_"Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia akan makan bersamamu."_

_Kemudian Abdullāh bin Mas'ūd bertanya lagi, "Lalu apa lagi wahai Rasūlullāh?"_

_Beliau berkata, "Engkau berzina dengan wanita tetanggamu.”_

_(Kemudian Rasūlullāh membawakan sebuah ayat)_ 

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ

_"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allāh dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allāh kecuali dengan (alasan) yang benar." (Surat Al Furqān :68)_

Ikhwāh wa Akhawātiy rahimakumullāh, nataufīq bi hadzal qadar, pada pembahasan yang akan datang In syā Allāh kita akan sampaikan  firman Allāh:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

_"Dan janganlah kalian mendekati perkara-perkara keji, baik yang nampak maupun  yang tersembunyi.”_

Matur Nuwun atas perhatiannya. Jika ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya. 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

Kitab AtTauhid🔊 Halaqah 024 : Surat Al-Am’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 25 Dzulqa'dah 1441 H / 16 Juli 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitab AtTauhid
🔊 Halaqah 024 : Surat Al-Am’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-024
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


وفي المغني لابن هشام في قوله تعالى: (أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً) سبعة أقوال، أحسنها: هذا الذي ذكره ابن كثير، ويليه: بين لكم ذلك لئلا تشركوا، فحذفت الجملة من أحدهما، وهى (وَصَّاكُمْ) وحرف الجر وما قبله من الأخرى.

Dikatakan di dalam kitāb Al-Mughi miliknya Ibnu Hisyam [dan di sini adalah Abdullāh Ibnu Yūsuf Al Anshāriy Al-Hambali orang yang pintar dalam perkara ilmu bahasa].

Dalam firman Allāh: "Janganlah kalian menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun”. Maka di sana ada 7 penjelasan dan yang paling baik yaitu apa yang disampaikan oleh Ibnu Katsīr, yaitu perintah Allāh kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allāh dan yang berikutnya adalah yang lebih jelas bagi kalian yaitu, agar kalian tidka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Maka disini kita sebagai seorang hamba memiliki kewajiban untuk menyembah Allāh dan meninggalkan semua bentuk syirik.

ولهذا إذا سئلوا عما يقول لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: يقول اعبدوا الله ولا تشركوا به شيئاً، واتركوا ما يقول آباؤكم كما قال أبو سفيان، لهرقل وهذا هو الذي فهمه أبو سفيان وغيره من قول رسول الله صلى الله عليه وسلم لهم قولوا لا اله إلا الله تفلحوا.

Oleh karenanya, jika ditanyakan kepada mereka, “Apa yang dikatakan Rasūl ?” Maka mereka berkata, “Yang dikatakan Rasūl adalah sembahlah Allāh dan janganlah kalian menyekutukan kepadanya dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh bapak kalian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abū Sufyan kepada Heraqlius.

Dan inilah yang dipahami oleh Abū Sufyan dan yang lainnya, yaitu apa yang dikatakan Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mereka, "Hendaknya kalian mengatakan 'Lā ilāha illallāh, niscaya akan jaya”.

Padahal Abū Sufyan pada kekufurannya. Subhānallāh. Abū Sufyan adalah pemuka Quraisy, Abū Sufyan di depan Herakel dengan penterjemah. 

Abū Sufyan mengatakan apa yang dikatakan Rasūl padahal Abū Sufyan benci sama Rasūl tapi Abū Sufyan berlaku jujur karena sesungguhnya Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan tauhīd dan memerintahkan kepada pengikutnya agar menjauhi semua bentuk kemusyrikan.

Yaitu apa yang dikatakan Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mereka, "Hendaknya kalian mengatakan 'Lā ilāha illallāh, niscaya akan jaya”.

Katakanlah tauhīd," Hendaklah kalian mengatakan 'Lā ilāha illallāh niscaya kalian akan jaya niscaya kalian akan menjadi orang yang sukses.

وقوله: (وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً) قال القرطبي: الإحسان إلى الوالدين برهما وحفظهما وصيانتهما وامتثال أمرهما، وإزالة الرق عنهما، وترك السلطنة عليهما، و(إِحْسَاناً) نصب على المصدرية، وناصبه فعل من لفظه تقديره: وأحسنوا بالوالدين إحساناً.

Yaitu pada firman Allāh وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا. Al-Qurthubi memberikan penjelasan yaitu kita sebagai seorang anak punya kewajiban untuk berbuat Al-Ihsān.

Māsyā Allāh. 

Allāh firmankan :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ [الرحمن : 60] 

“Bukankah kebaikan itu balasannya adalah kebaikan ?”
(QS Ar-Rahman: 60) 

Dan seorang anak punya kewajiban untuk berbuat ihsān kepada siapa saja, apalagi sama orang tua.

Maka di sini jika orang itu berbuat baik sama orang lain maka berbuat baik sama orang tua adalah sesuatu hal yang harus.

Berbuat baik kepadanya, menjaga orang tua, berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik laksanakan apa yang menjadi perintahnya.  Menghilangkan sesuatu hal yang tidak baik dan tidak semena-mena dengan orang tua. 

Maka di sinilah seorang hamba harus paham bahwasanya dia itu ada karena orang tua. Māsyā Allāh. Kita ini punya ayah Alhamdulillāh, kita ini punya ibu Alhamdulillāh, kita ini lahir di dunia karena ada bapak dan ibu kita. 

Makanya Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika ditanya oleh seorang sahabat:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

"Yā Rasūlullāh, siapakah orang yang paling aku berhak untuk berbuat baik dengannya?" Maka Rasūlullāh menjawab,"Ibumu". Sahabat ini bertanya lagi "Siapa lagi rasūl ?" Rasūlullāh bersabda,"Ibumu".
Sahabat ini bertanya lagi "Siapa lagi rasūl? Maka Rasūlullāh bersabda,"Ibumu" begitu yang berikutnya begitu yang ke-4 Rasūlullāh mengatakan "bapak-mu".

Demikian semoga bermanfaat.

Ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya. 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

______

Rabu, 15 Juli 2020

Kitab AtTauhid🔊 Halaqah 023 : Surat Al An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 24 Dzulqa'dah 1441 H / 15 Juli 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitab AtTauhid
🔊 Halaqah 023 : Surat Al An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-023
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'AM AYAT 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Tentunya tatkala kita berbicara, ucapan kita kepada yang satu dengan yang lain akan berbeda-beda. 

Nasehat orang tua kepada anaknya sebelum anak berangkat sekolah, "Le, wahai putraku, belajar yang rajin ya," Māsyā Allāh. "Baik bu, baik pak." Ini nasehat.

Suami berkata kepada istrinya, "Wahai istriku  buatkanlah minum teh," ini perintah.

Seseorang mengajak temannya untuk shalāt berjam'ah ke masjid, "Ayo kita ke masjid," māsyā Allāh (ini ajakan).

Tapi perhatikan! 

Bagaimanakah dengan wasiat?

⇒ Yang namanya wasiat adalah seseorang memberikan suatu pernyataan dan pernyataan tersebut seakan-akan merupakan ucapan yang terakhir kali baginya.

Kenapa? 

Karena kematian sudah bakalan menyongsongnya, Subhānallāh. 

وأصاكم (ألا تشركوا به شيئا)

_Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan wasiat kepada kalian._ 

Māsyā Allāh 

Ucapan yang diucapkan seakan-akan ini adalah ucapan selamat tinggal.

Kenapa? 

Karena tidak ada ucapan sesudahnya.

Maka seseorang yang mendapatkan wasiat hendaknya menyampaikan apa yang menjadi wasiat (amanah) tersebut.

⇒Dikatakan (untuk harta) wasiat itu tidak lebih dari 1/3 harta yang dimiliki seseorang.

ولهذا قال في آخر الآية 

_Demikianlah Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita dipenghujung ayat :_

ذَ ٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

_"Demikianlah kami wasiatkan kepada kalian agar kalian menjadi orang-orang berakal.”_ 

(QS Al An’am: 151)

Disinilah nikmat seseorang manakala dia  mempunyai akal, dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengajak berbicara dengan orang-orang yang berakal.

Di banyak tempat Allāh menyebutkan :

 فَٱعْتَبِرُوا۟ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَبْصَـٰرِ

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ

Orang-orang yang mempunyai akal mendapatkan kemuliaan dengan gelar:  أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ dan: أُو۟لِى ٱلْأَبْصَـٰرِ ,orang-orang yang punya pandangan baik.

Dan demikian seorang mukmin hendaknya mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan wasiat yang Allāh kabarkan adalah wasiat agar seseorang mengagungkan Allāh dan tidak menyekutukan Allāh bentuk peribadatan apapun.

قلت: فيكون المعنى: حرم عليكم ما وصاكم بتركه من الإشراك به

_(Pada ayat ini mualif memberikan penjelasan) bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita suatu pernyataan, bahwa Allāh mengharamkan atas kalian apa yang menjadi wasiat untuk kalian yaitu janganlah kalian menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan sesuatu apapun._

Demikian semoga bermanfaat.

Jika ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya. 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

______