Minggu, 11 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 037: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 25 Shafar 1442 H / 12 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 037: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-037
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله.
رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما

Suatu saat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah membuat garis panjang dan garis di sisi kanan dan kiri garis tersebut, kemudian Beliau bersabda:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ

_"Ini merupakan jalanku yang lurus.”_

Menunjukkan yang namanya kebenaran itu tungal (satu).

Jika kita lihat Al Qur'ān, bahwasanya orang-orang yang beriman mereka adalah wali-wali Allāh. Mereķa berusaha dan berupaya untuk meninggalkan berbagai macam jalan kegelapan dan mereka berusaha menuju nur (cahaya).

  مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ.

_Dari kegelapan yang jumlahnya sangat banyak kepada pada cahaya (satu)._ 

Dhulmatun (ظلمت) dalam bahasa Arab artinya kegelapan. Kegelapan yang banyak (jamak) disebut dhulumātu.

Cahaya mufradnya (tunggalnya) adalah nur, jamaknya adalah Anwar 

Allāh tidak firmankan:

  مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى أنوار

_Dari kegelapan yang jumlahnya sangat banyak kepada pada cahaya yang banyak._ 

Tidak!

Tapi Allāh ungkapkan dengan:

 مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ 

_Dari kegelapan yang jumlahnya sangat banyak kepada pada cahaya (satu)._ 

Menujukkan kebenaran itu satu.

Begitu juga orang-orang kafir dan wali-walinya, mereka meninggalkan nur menuju dhulumāt,  Allāh tidak ungkapkan,   "Minal Anwar ilaa dhulumat."

Tapi Allāh ungkapkan,  "Minanuri ila dhulumat," yang menunjukkan bahwa kebenaran itu satu dan jalan untuk menunju keburukan itu banyak. 

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika membuat garis yang lurus Beliau bersabda:

 وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ

_"Ini merupakan jalanku yang lurus, ikutilah jalan lurus ini.”_

Perintah dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: فتَّبِعُواْ, sekaligus perintah dari Allāh, "Ikutilah jalan yang lurus ini."

Kita setiap hari mengatakan:

 ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ 

_"Yā  Allāh, tunjukanlah kami jalan yang lurus "_ 

Tafsirnya adalah firman Allāh:

صِرَ ٰطَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ

_Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri karunia dan nikmat kepada mereka._

Siapakah mereka ini?

 من النبي 

_Jalannya para nabi._

"Nabā" adalah orang yang membawa berita penting (berita agung), maka ada surat An Nabā. 

 وصَادِقِي

_Jalannya orang-orang yang berusaha dan berupaya untuk selalu jujur._

Pada dasarnya orang itu jujur, dan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ،

_"Hendaklah kalian berusaha dan berupaya untuk berlaku jujur karena jujur akan mengantarkan pelakunya kepada kebaikan.”_

وإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

_"Dan kebaikan akan mengantarkan pelakunya kepada surga.”_

وإن الرجل ليصدق ويَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

_Tidak ada seseorang yang berusaha jujur sampai orang ini dikenal dengan orang yang sangat jujur sampai orang ini dikenal sebagai orang yang sangat jujur._

وإِيَّاكُمْ والْكَذِبَ

_"Jauhilah kalian perkara dusta.”_

فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ

_"Ketahuilah bahwasanya dusta itu mengantarkan pelakunya keburukan.”_

وإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

_"Dan ketahuilah yang namanya keburukan akan  mengantarkan pelakunya kepada api neraka."_

و إن الرَّجُلُ ليَكْذِبُ ويَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

_"Dan tidak ada seseorang yang berdusta dan dia berusaha untuk selalu berlaku dusta sehingga dia akan di tulis menjadi seorang pendusta._

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________

Rabu, 07 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 036: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21 Shafar 1442 H / 08 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 036: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-036
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله.
رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما


Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ 

_"Yang demikian itu telah Aku wasiatkan kepada kalian.”_

Perhatikan !

Bagaimana Allāh mengungkapkan dengan: ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم , ini adalah wasiat. 

Tentunya orang hidup, dia akan mengalami banyak kejadian. 

√ Terkadang seseorang mendapatkan satu amanah untuk melakukan sesuatu.

√ Terkadang seseorang melakukan perbuatan karena itu adalah perintah. 

√ Terkadang seseorang menjumpai orang yang hendak wafat dan sebelum wafat dia memberikan perintah, inilah yang dinamakan wasiat.

 ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ 

_"Yang demikian adalah wasiat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian."_

Ini adalah wasiat, menunjukkan perkara yang kita baca adalah perkara yang agung karena tidak sekedar perintah tetapi wasiat.

Wasiatnya adalah, Allāh berfirman:

لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

_"Agar kalian mengingatnya.”_

Dengan harapan agar kalian semua mengingat Allāh. 
 
 أَلاَ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ القلوب

_"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allāh hati menjadi tenteram.”_

(QS Ar Ra'd :28)

Kaum muslimin setelah memasuki tanggal 1 bulan Dzulhijjah mereka semua mengagungkan Allāh (bertakbir):

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Dengan 3 kali takbir atau dengan 2 kali takbir.

Māsyā Allāh. 

Merinding kita kaum muslimin.

Kenapa? 

Karena nama Allāh Subhānahu wa Ta'āla diagungkan di pagi hari, sore hari, siang hari dan malam hari, agar kalian mengingat, dan semua orang harus ingat akan Tuhannya.

Orang yang mengingat Allāh baru dia akan bersyukur, tidak mungkin seseorang bersyukur kecuali dia akan ingat kepada Tuhannya.

Dan Allāh menyebutkan: لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ, di sinilah Allāh memerintahkan kita agar kita semua senantiasa mengingat  Allāh. 

Bukankah Allāh telah berfirman: 

 أَلاَ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ القلوب

_"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allāh hati menjadi tenteram.”_

(QS Ar Ra'd :28)

Di ayat lain Allāh menyebutkan: 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ 

_"Hendaknya kalian ingat kepadaku, niscaya aku akan mengingatmu.”_

(QS Al Baqarah:152)

Demikianlah seorang muslim, di dalam kehidupannya tidak lepas dari 3 hal:

⑴ Kadang dia dalam keadaan berdiri. 
⑵ Kadang dia dalam keadaan duduk. 
⑶ Kadang dia dalam keadaan berbaring. 

Allāh berfirman: 

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

_"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allāh) bagi orang yang berakal.”_

(QS Āli Imrān: 190)

Di sana ada tanda di antara tanda kebesaran Allāh bagi orang-orang yang berakal.

Siapakah mereka?

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ 

_"Mereka adalah orang-orang yang senantiasa ingat Allāh dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk dan dalam keadaan berbaring.”_

(QS Āli Imrān: 191)

Maka seorang mukmin harus menjadi orang yang terbaik, ingatlah Allāh. 

Ketika masuk masjid jangan lupa mengerjakan shalāt tahiyatul masjid.
 
Berdo'a adalah yang terbaik. 


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 035: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 20 Shafar 1442 H / 07 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 035: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-035
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله.
رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما


Allāh berfirman:

وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْۚ

_"Dan dengan janji Allāh, hendaklah kalian tunaikan.”_

Sebelumnya Allāh menyebutkan:

وَإِذَا قُلۡتُمۡ فَٱعۡدِلُواْ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰۖ 

_"Jika kalian berkata (berbicara) maka berkata (berbicara)lah dengan perkataan yang adil sekalipun dia sanak (kerabat).”_

Sekalipun dengan sanak kerabat maka kita harus berlaku adil dan dengan janji Allāh, maka kita melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya.

Ikhwan wa akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Allāh menyebutkan: وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ (dan dengan janji Allāh) أَوۡفُواْۚ (maka tunaikanlah!).

 ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

_"Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat."_

Disebutkan bahwa suatu ketika Āli bin Abī Thālib pernah memiliki suatu masalah dengan seorang Yahudi. Āli bin Abī Thālib memiliki sebuah baju besi yang biasa digunakan untuk berperang dan dia merasa memiliki baju tersebut dan tidak pernah merasa memberikan baju tersebut kepada orang lain (apalagi menjualnya). 

Tiba-tiba Āli bin Abī Thālib melihat baju tersebut ada di tangan seorang Yahudi, kemudian masalah ini berujung kepada qadha yaitu penyelesaian masalah yang dilakukan oleh seorang qadhi. Qadhi saat itu bernama Iyas atau Syuraih Al Qadhi (salah satu di antara keduanya).

Tatkala keduanya menghadap qadhi, Āli bin Abī Thālib menyampaikan bahwasanya dia memiliki baju besi yang digunakan untuk berperang dan dia merasa tidak pernah menjual maupun memberikan kepada seseorang. Kemudian ada seorang Yahudi yang mengatakan bahwa baju besi tersebut miliknya.  

Kemudian qadhi tersebut mengatakan, "Wahai Āli, apakah engkau memiliki saksi yang bisa memberikan penjelasan bahwa baju besi ini adalah milikmu?" dan Āli pun mengatakan, "Iya, aku memiliki saksi dan saksinya adalah putraku Al Hasan."

Kemudian sang hakim mengatakan "Apakah engkau memiliki saksi lain selain putramu Al Hasan?" Āli pun berkata, "Tidak."

Sang hakim berkata, "Kalau begitu persaksianmu tidak aku terima." 

Āli berkata, "Subhānallāh, Apakah putraku dan dia adalah calon penghuni surga, persaksiannya tidak diterima?"

Sang hakim berkata, "Tetapi dalam Islām demikian, anak tidak bisa menjadi saksi bagi orang tuanya begitu pun sebaliknya orang tua tidak bisa menjadi saksi untuk anaknya."

Āli berkata, "Kalau begitu aku tidak memiliki saksi kecuali dia."

Kemudian diputuskan bahwa baju besi tersebut milik orang Yahudi dan Āli pun menerima apa yang menjadi keputusan qadhi. Yahudi ini pun kaget (dia heran), "Agama apakah ini, bukankah agama ini adalah agama yang paling sempurna?" 

Maha Suci Allāh, bagaimana seorang khalifah ketika memiliki masalah dengan rakyatnya, kemudian khalifa mendatangi seorang hakim dan hakim tersebut memenangkan rakyatnya.

Maha Suci Allāh, ini adalah agama yang hak.

Yahudi itu pun berkata, "Wahai Āli, baju besi ini adalah milikmu, tatkala terjadi peperangan aku melihat engkau memiliki baju besi dan baju itu terjatuh tanpa engkau sadari, lalu aku mengambil baju besi tersebut, ini adalah baju milikmu."

Kemudian Yahudi ini bersaksi, "Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh dan Muhammad adalah utusan Allāh." Kemudian Yahudi itu masuk Islām dan mengembalikan baju tersebut kepada Āli bin Abī Thālib dan Āli bin Abī Thālib memberikan baju perang tersebut sebagai hadiah kepada Yahudi itu.


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______________________

Senin, 05 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 034: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 19 Shafar 1442 H / 06 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 034: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-034
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله.
رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما 


Kembali kita lanjutkan materi kita, masih kita membahas Kitāb Tauhīd. Pada pembahasan yang lewat telah kami sampaikan firman Allāh surat Al An'ām ayat 152.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ

_"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim.”_

Anak yatim adalah:

من مات أبوه وهو صغير

_"Siapa saja yang ditinggal oleh ayahnya dan dia belum datang aqil baligh.”_

Ada larangan untuk mendekati harta anak yatim. Mendekat saja tidak boleh, apalagi mengambil harta mereka.

Karena Allāh berfirman:

 إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ 

_Kecuali dengan cara paling baik._

Allāh tidak berfirman: 

 إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ حسَنُ 

_Kecuali dengan yang baik._

Hingga anak tersebut memasuki usia aqil baligh. 

Jika anak tersebut sudah aqil baligh, maka anak tersebut bisa diuji kemampuannya. 

Akan tetapi apabila sudah aqil baligh dan dia masih belum mampu untuk menggunakan harta dengan baik, maka kafilnya boleh untuk menahannya sampai anak tersebut benar-benar bisa berpikir dengan jernih dan bisa memanfaatkan uang sebagaimana mestinya.

وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ

_"Dan tunaikan takaran dan timbangan dengan jujur dan adil.”_

⇒ Yang dimaksud dengan: ٱلۡكَيۡلَ 0adalah sukatan dan: ٱلۡمِيزَانَ , adalah timbangan.

Di sini terkadang seseorang terjerumus kepada perkara curang dalam hal memberikan atau mengambil.

Allāh berfirman:

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ۞ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ ۞ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ

_"Allāh memberikan ancaman neraka wail bagi mereka (orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi."_

(QS Al Muthaffifīn: 1-3)

Allāh memberikan celaan (ancaman) kepada mereka dengan: وَيۡلٞ. Maka seorang mukmin hendaknya menjadi orang yang terbaik.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

خير الأمور أوسطها 

_"Sebaik-baik perkataan adalah yang normal-normal (wajar).”_

Sekiranya kita memberi untuk orang lain, maka berikan sebaik mungkin. Kita memberikan lebih sehingga orang tersebut merasa nyaman. 

Demikianlah seorang mukmin tidak pelit tidak juga berlebihan.

Allāh berfirman: 

 لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ

_"Kami tidak membebani suatu jiwa melainkan menurut kesanggupannya.”_

Seseorang tentunya sulit untuk berlaku adil, maka dikatakan: لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ. 

Maka seorang mukmin berupaya untuk berlaku yang terbaik.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki banyak istri dan Beliau berkata:

هذا قسمي فيما املك ولا أملك فيما تَمْلِكُ

_"Ya Allāh, apa yang bisa aku lakukan terhadap istri-istriku, inilah yang aku miliki dan aku tidak memiliki apa-apa yang e/Engkau miliki.”_

Demikianlah seorang di dalam kehidupan ini, sulit untuk berlaku adil. 

Maka Allāh berfirman: 

 وَإِذَا قُلۡتُمۡ فَٱعۡدِلُواْ 

_"Jika kalian berkata (berbicara) maka berkata (berbicara)lah dengan perkataan yang adil.”_

وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰۖ 

_"Sekalipun dia sanak (kerabat).”_

Kadang seseorang bisa adil untuk orang lain,  tetapi untuk dirinya sendiri terkadang sulit.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di zamannya ada seseorang yang melakukan kesalahan, kemudian orang tersebut menemui Usamāh agar ia (Usamāh) menjadi perantaranya menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar dia tidak dihukum semestinya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun keluar dari rumahnya kemudian Beliau berkata dengan lantang, "Ketahuilah bahwasanya, umat-umat sebelum kalian (Yahudi) jika di antara mereka ada yang mencuri dan mereka berasal dari kalangan rendah maka mereka akan di potong tangannya dan apabila yang mencuri itu berasal dari kalangan bangsawan maka mereka memaafkan"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
 
_"Seandainya Fāthimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”_

Subhānallāh.

Maka di sini bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berusaha dan berupaya untuk memberikan tauladan terbaik untuk umat ini.


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______________________

Minggu, 04 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 033: Surat Al-An’ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Shafar 1442 H / 05 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 033: Surat Al-An’ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-033
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Kemudian, Allāh menyebutkan:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

_"Kami tidak membebani seorangpun kecuali dengan kemampuannya.”_

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰى ۖ 

_"Jika dikatakan kepada kalian, maka berlaku adillah kalian (hendaknya kalian tatkala berhukum, berhukumlah dengan adil) sekalipun hal tersebut menimpa kepada kerabat kita.”_

Terkadang seseorang jika untuk orang lain dia bisa berlaku adil, akan tetapi untuk dirinya sendiri terkadang tidak bisa berlaku adil. 

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan kepada kita pernyataan, "Sesungguhnya jika Fāthimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku akan potong tangannya."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling terdepan di dalam menegakkan keadilan.

وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون

_"Dan dengan janji Allāh, hendaklah kalian memenuhinya. Yang demikian ini, Allāh wasiatkan kepada kalian agar kalian menjadi orang-orang yang mengingat.”_

Seseorang diberi peringatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla bahwa demikianlah seorang muslim, hendaknya ingat bahwasanya harta anak yatim bukanlah miliknya, harta anak yatim adalah milik anak yatim tersebut.

Tatkala kita menimbang atau tatkala kita menakar, maka Allāh pun mengingatkan kita.

Apa itu? 

Hendaknya kita pun menakar dengan baik. Tatkala kita menimbang maka menimbanglah dengan baik.  

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

_"Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak membebani suatu jiwa pun (suatu kaum) kecuali dengan kemampuannya.”_

Di sinilah seorang muslim harus memahami bahwasanya salah satu perintah Allāh adalah:

وَإِذَا قُلْتُمْ فَٱعْدِلُوا۟ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ

Maka berlakulah adil.

Berlaku adil adalah perkara yang mulia sekalipun berat, karena bisa jadi hal tersebut ada pada saudara (kerabat) kita.

وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟

_Dan dengan janji Allāh, hendaklah kalian memenuhinya._

Dalam ayat lain Allāh menyebutkan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ

_"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu."_

(QS Al Maidāh:1)

Banyak tempat Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita suatu pernyataan agar kita menepati janji, dan seorang muslim hendaknya senantiasa menjadi muslim yang sejati yaitu dengan melaksanakan apa yang menjadi perintah Allāh. Dan di antara perintah Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah seseorang hendaknya menegakkan janjinya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam surat Al Maidāh ayat pertama:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ

_"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji kalian.”_

Kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memudahkan kita semua untuk bisa menepati janji, karena ini adalah wasiat Allāh yang dengannya kita diingatkan.

نكتفي بهذا القدر
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______________________

Rabu, 30 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 032: Surat Al An’ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 14 Shafar 1442 H / 01 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 032: Surat Al An’ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-032
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Allāh firmankan:

وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ 

_"Dan tunaikanlah (dan penuhilah) takaran.”_

وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ

_"Dan timbangan dengan penuh keadilan.”_

Di sini Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita suatu pernyataan:

 وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ. 

Ibnu Katsīr berkata: 

يعمروا تعالى بإقامة العدل في العهد و العاط

_"Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan perintah kepada hambanya agar seorang hamba menegakkan keadilan.”_

Kapan? 

Tatkala dia mengambil dan memberi.

Maka seorang muslim di dalam kehidupan ini tidak boleh ifrad (berlebihan) tidak boleh tafrid (menggampangkan).

Tidak boleh seseorang yang memiliki harta kemudian semua harta tersebut dibelanjakan di jalan Allāh (ini tidak dibenarkan). Tidak pula harta tersebut dia genggam semua sehingga tidak pernah dikeluarkan (ini pun tidak benar).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

 خيرُ الأمورِ أوساطُها

_"Sebaik baik perkara adalah yang tengahnya.”_

(Hadīts riwayat Al Baihaqi)

Dikatakan:

وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ 

_"Tunaikanlah takaran.”_

Seseorang tatkala jual beli tentunya disana ada menakar.

Di pasar sebagian orang tatkala jual beli beras, bukan dengan cara ditimbang tetapi ditakar menggunakan kaleng bekas susu yang isinya 1/4 kg atau 1 Kg. Ketika penjual hendak menakar maka hendaklah dia menakar dengan baik (menggunakan potongan kayu yang lurus) sehingga adil.

Tatkala di sana ada seseorang yang berupaya untuk melakukan kecurangan, bisa jadi dia mengambil kayu yang bengkok atau menggunakan tangannya sambil tangannya digerakkan sedikit dalam, maka disitulah akan terjadi kezhāliman yaitu berkurangnya takaran.

وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ

_"Dan tunaikanlah timbangan (takaran) itu dengan baik.”_

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam Al Qur'ān:

وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ

_"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu."_

(QS Ar Rahman: 9)

Ada sebagian orang tatkala menjual suatu barang melakukan kecurangan. Bisa jadi dengan ditinggikan sebelah  mejanya, sehingga meja tidak berdiri dengan tegak lurus (terkadang diberi batu, potongan kayu) sehingga meja itu tidak lurus sehingga mengakibatkan timbangan tidak sejajar (tidak lurus dan rapih).

Ada juga yang melakukan kecurangan bukan pada meja akan tetapi timbangan tersebut diberi sesuatu yang bisa memberatkan timbangan terkadang timbangan itu diberi beban berupa timbal, besi berani, kawat atau uang logam yang diletakkan di tempat yang biasa digunakan untuk menimbang.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mencela orang-orang yang melakukan kecurangan, Allāh menyebutkan:

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ۞ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ ۞ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ ۞ 

_"Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi."_

(QS Al Mutaffifin: 1-3)

Maka seorang muslim tatkala melakukan jual beli hendaklah ingat akan firman Allāh ini. 

Dimana seorang muslim tatkala dia hidup hendaknya dia berlaku dengan baik, tidak melakukan kezhâliman 

 لاضرر ولاضرار

_"Tidak boleh seseorang itu merugikan dirinya sendiri atau merugikan orang lain.”_

Dikatakan di dalam hadīts:

اتَّقوا الظُّلمَ  فإنَّ الظُّلمَ ظلماتٌ يومَ القيامةِ

_"Jauhilah kezhāliman karena kezhāliman adalah kegelapan di hari kiamat."_

(Hadīts riwayat  Al Bukhāri nomor 2447, Muslim nomor 2578).

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

_"Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam menimbang atau menakar.”_

"Wailun" (وَيۡلٞ) memiliki arti "hanākun", (celakalah).

ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ

_"Yaitu orang-orang yang apabila mereka menerima takaran dari orang lain maka mereka  pun minta untuk dicukupkan.”_

وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ

_"Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain maka merekapun mengurangi.”_

Allāh firmankan: 

أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ

_"Tidakkah mereka itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.”_

Kapan ?

لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ

_"Pada suatu hari yang agung."_

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

_"Pada hari ketika semua manusia (bangkit) menghadap Tuhan seluruh alam."_

(QS Al Mutaffifin: 1-6)

Maka di sini seorang muslim tatkala jual beli hendaknya dengan yang terbaik dan seorang muslim tatkala jual beli hendaknya: سَمْحًا (samhān), yaitu mudah. 

Mudah tatkala membeli dan mudah tatkala menjual, mudah tatkala bermuamalah dengan orang lain.

نكتفي بهذا القدر
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________________________________

Selasa, 29 September 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 031: Surat Al-An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Shafar 1442 H / 30 September 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 031: Surat Al-An'ām Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-031
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM AYAT 151-153 (LANJUTAN)*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله, قال الله تعالى في كتاب الكريم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Allāh menyebutkan di dalam surat Al-An'ām:152:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَٱعْدِلُوا۟ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Allāh Subhānahu wa Ta'āla firmankan:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ

"Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim.”

Māl (مَالَ) artinya adalah harta.
Al-Yatīm (ٱلْيَتِيمِ) adalah من مات أبوه وهو صغير - (siapa saja yang ditinggal wafat oleh ayahnya dan dia belum aqil bāligh).

Tidak benar bagi mereka yang berkata, "Besok aku akan menikahi wanita yatim piatu", ternyata wanita ini berusia 20 tahun, maka dia tidak dikatakan yatim piatu, karena wanita itu sudah aqil bāligh.

Suatu saat ada seseorang di terminal datang mengendarai motor kemudian datang seseorang dan dia mengatakan, "Mas, paring-paring (Mas, mohon maaf saya mau minta)”.

Kemudian orang yang mengendarai motor ini berkata, "Tunggu sebentar saya parkir motor dulu".

Setelah pengendara motor ini memarkirkan motornya, kemudian peminta-minta ini  berkata, "Minta seikhlasnya, mas".

Maka pengendara motor  berkata, "Iya, kemudian dia membuka dompet dan memberi uang orang tersebut".

Kemudian pengendara motor bertanya kepada orang yang minta-minta tersebut, "Usia bapak berapa?" 

Bapak itu menjawab,"Usia saya 60 tahun"

Kemudian pengendara motor bertanya lagi, "Apakah bapak mempunya istri?" 

Bapak itu menjawab,"Ada".

Kemudian pengendara motor bertanya lagi, "Apakah bapak mempunya anak?" 

Bapak itu menjawab, "Ada, anak saya dua orang dan mereka bekerja, tapi saya ini yatim".

Māsyā Allāh, usia 60 tahun masih ingin di bilang yatim, padahal yang di maksud dengan yatim adalah  من مات أبوه وهو صغير - (siapa saja yang ditinggal wafat oleh ayahnya dan dia belum aqil bāligh).

Di negeri kita kalau di tinggal ayahnya kemudian dinamakan yatim dan jika ditinggal meninggal ibunya maka dinamakan piatu (yatim piatu).

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ

"Dan janganlah kalian mendekati......."

Yang dimaksud mendekati adalah menggunakan harta anak yatim. Mendekati saja tidak! Apalagi menggunakan.

وَلَا تَقْرَبُوا۟ 

"Dan janganlah kalian mendekati......."

Kenapa? Karena harta anak yatim adalah milik anak yatim tidak boleh seseorang tatkala menjumpai anak yatim yang memiliki harta yang banyak (harta yang cukup) kemudian harta tersebut di ganggu. Baik untuk makan, mengembangkan usahanya, untuk bersedekah (walau harta ini milik anak yatim) maka harta ini tidak boleh diganggu.

 إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ 

"Kecuali dengan jalan yang lebih baik.”

Kapan?

حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

"Sampai anak yatim tersebut dewasa.”

Maka di sini dikatakan  إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ - boleh seseorang tatkala mendapatkan amanah untuk memberikan pelayanan kepada anak yatim (mengasuh anak yatim) sementara anak yatim ini mempunyai uang, maka boleh uang tersebut dikembangkan. Tentunya uang tersebut kembali kepada anak yatim.

Adapun jika harta tersebut dimakan oleh orang yang mengasuhnya maka orang tersebut berdosa. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan di dalam sebuah hadīts:

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ و فى روايه هكذا

"Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di Surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.”

Dikatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan isyarat السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى.

As-Sabābah (السَّبَّابَةِ) adalah telunjuk.
Al-Wusthā (الْوُسْطَى) adalah jari tengah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatupkan dua jarinya, menunjukkan dekatnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada orang-orang yang mengkafil (memelihara) anak yatim.

Sungguh anak yatim itu kasihan, karena tatkala tidak ada ayah maka dia akan memiliki sifat yang kecil hati. Subhānallāh.

Bersyukur kita yang memiliki Ayah. Bersyukur kita yang memiliki Ibu.

Karena ayah dan ibu adalah tempat dimana anak itu mengadu. 

Kapan? 

Sesudah mereka mengadu kepada Allāh, maka mereka pun menyampaikan seluruh masalahnya kepada orang tuanya.

Jika anak yatim tadi sudah bāligh, sudah bisa berpikir dengan baik (25 tahun, 30 tahun) maka semua hartanya diberikan kepada anak yatim tersebut, karena itu adalah haknya.


نكتفي بهذا القدر
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____________________