Kamis, 22 Oktober 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 044: Pembahasan Dalīl Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 05 Rabi'ul Awwal 1442 H / 22 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 044: Pembahasan Dalīl Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 6)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-044
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 6)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد


Kita kembali lanjutkan pada hadīts terkait dengan anjuran untuk mentauhīdkan Allāh dan menjauhi semua bentuk kemusyrikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرُهُمْ فَيَتَّكِلُوا

Pada pembahasan yang lewat, kita telah sampaikan terkait dengan materi ini dan kita sedikit mengulang arti dari hadīts yang pernah kita sampaikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ

_Dari Mu'ādz ibn Jabal radhiyallahu 'anhu._

Mu'ādz ibn Jabal adalah shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Beliau adalah Mu'ādz ibn Jabal ibn Amr Al-Anshāriy. 

Beliau termasuk shahabat yang mulia, termasuk pembesar para shahabat. Beliau juga termasuk dari 70 orang yang ikut bai'at 'Aqadah kedua.

Beliau shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dan beberapa perang yang sesudahnya.

Beliau shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang pintar di dalam hukum, mahir dalam Al-Qur'ān dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengutusnya ke negeri Yaman.

Salah satu yang diberitakan bahwasanya beliau meninggal di negeri Syām tahun 38 sesudah Hijriyyah.

Mu'ādz radhiyallāhu 'anhu suatu saat pernah berkata: 

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير

_Dahulu aku pernah dibonceng oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di atas keledai yang bernama 'Ufair._

فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ 

_"Wahai Mu’ādz! Tahukah engkau apa hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allāh?"_

قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

_Aku menjawab, "Allāh dan Rasūl-Nya yang lebih mengetahui."_

قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."_

Maka di sini, yang pertama adalah ibadah dan yang kedua tidak menyekutukan Allāh. Ada perintah dan ada larangan.

Begitu kita berbicara perintah, maka perintah yang paling agung adalah beribadah.

Dan ibadah pada dasarnya adalah haram, kecuali yang telah ditegaskan. 

Berbeda dengan makanan. Tatkala kita berbicara makanan maka semua makanan pada  dasarnya adalah halal, kecuali apa yang diharamkan.

Yang diharamkan itu menjadi kewajiban hamba untuk menjauhinya.

Hikmah besar tatkala Allāh menjadikan semua bentuk makanan itu (tadinya) halal dan Allāh tidak menyebutkan nama makanan satu persatu. 

Coba dibayangkan! Kalau nama makanan disebut satu persatu bisa sampai 1/2 juz , isinya membahas masalah makanan: gedang goreng, gedang godok, gedang klutuk, gedang becici, gedang Ambon, gedang ini, pisang ini. Mohon maaf orang jawa menyebut pisang itu gedang.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan melalui lisan Rasūl-Nya:

وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_Tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."_

Begitu kita berbicara larangan, maka yang paling terdepan begitu kita berbicara larangan adalah seseorang menyekutukan Allāh. 

Dan demikianlah seorang hamba memiliki kewajiban, apa yang harus ditunaikan kepada Allāh. 

Pembahasan materi pada kali ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ

_Apakah hak yang di dapat oleh hamba dari Allāh?_ 

Hak yang harus di lakukan oleh Allāh kepada hamba-Nya. 

Maka dikatakan:

 ما كتبه على نفسي ووأدهم به من ثواب تفظلن منه و إحسان 

_Apa-apa saja yang telah Allāh tetapkan atas diri-Nya. Apa-apa saja yang menjadi kewajiban Allāh kepada hamba-Nya._

Menunjukkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla Dzat yang Maha Kasih Sayang, karena Allāh telah menetapkan apa yang semestinya akan dikerjakan oleh Allāh. 

Kapan? 

Selama hamba itu masih di dunia, bahkan di akhirat nanti akan mendapatkan haknya pula.

Maka dikatakan: ما كتبه على نفسي

Ikhwan Akhawatiy Fīlllāh Rahimakumullāh.

Begitu kita berbicara: حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ , maka di sinilah seorang mukmin hendaknya husnudzan billāh (husnudzan kepada Allāh).

Kenapa? 

Karena Allāh telah menetapkan apa yang bakalan Beliau lakukan terhadap hamba-Nya, apa yang akan Allāh kerjakan untuk maslahat hamba-Nya.

وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَاد

_Allāh sangat kasih sayang terhadap hamba-Nya._

Bahkan Allāh memberikan pernyataan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa."_

(QS. Al-Baqarah: 21)

Begitu Allāh menciptakan manusia, Allāh tidak akan membiarkan hambanya begitu saja, tidak!

Allāh akan memiliki kewajiban atas Diri-Nya untuk memberikan nafkah, untuk memberikan rezeki, untuk memberikan penghidupan,  untuk memberikan udara. Bahkan Allāh memberikan apa yang kita minta dan apa yang tidak kita minta.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Selasa, 20 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 043: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rabi'ul Awwal 1442 H / 21 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 043: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 5)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-043
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU 'ANHU (BAGIAN 5)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد


Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Kewajiban yang berikutnya yang harus dilakukan seorang hamba adalah:

لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

_"Tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu pun dalam hal peribadatan).”_

Maka dikatakan tidaklah ada suatu larangan yang paling harus diperhatikan yaitu untuk tidak menyekutukan Allāh. 

Di dalam ayat terakhir surat Al Kahfi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

_"Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”_

(QS Al Kahfi: 110) 

Allāh menutup ayat-Nya:

وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

_Agar mereka tidak menyekutukan Allāh dalam perkara ibadah apapun._

Mohon maaf, terkadang orang jawa percaya dengan kekuatan yang ada pada batu akik.

Misalnya: 

Seseorang meyakini kekuatan batu akik, kemudian dia berkata, "Seandainya waktu tabrakan kemarin aku membawa batu akik, in syā Allāh aku tidak terkapar di rumah sakit hari ini."

Māsyā Allāh, masih menggunakan "in syā Allāh", sesuatu yang telah lewat (telah berlalu) tidak perlu menggunakan kata "in syā Allāh". 

Contoh: "Tadi pagi sudah makan, mas?” “In syā Allāh,  sudah.”

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak perlu menggunakan kata "in syā Allāh" karena kejadiannya sudah terjadi.

Sebagian orang percaya batu akik memiliki kekuatan khusus, dan mengatakan, "Aku, kalau bekerja tidak menggunakan batu akik badan ku lemes," ini tidak benar.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau mencium hajar aswad. Umar bin Khaththab radhiyallāhu 'anhu, ketika beliau berada di depan Ka'bah (di depan hajar aswad) beliau berkata kepada hajar aswad. 

⇒ Hajar aswad adalah batu surga yang dulunya berwarna putih melebihi putihnya salju, karena banyaknya dosa yang dilakukan oleh anak keturunan Adam maka berubahlah batu tersebut menjadi berwarna hitam.

Umar bin Khaththab berkata kepada hajar aswad:

وَاللَّهِ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

_"Demi Allāh, aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudharat (bahaya). Seandainya bukan karena aku melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu."_

Māsyā Allāh. 

Tauhīd: و لا يشرك به شيئاً 

Menggunakan cincin atau batu akik tidak apa-apa. Yang tidak benar adalah ketika dia memakai cincin atau akik tersebut kemudian dia meyakini batu tersebut memiliki kekuatan.

Suatu saat ada salah seorang jamaah haji berkata kepada kami, "Ustdaz saya pernah dapat warisan dari orang tua berupa keris, dan beliau berpesan agar setiap 35 hari (orang jawa mengatakan "selapan") harus dicuci dan dirumat dengan menggunakan bunga-bunga tertentu. Jika tidak dicuci menggunakan bunga-bunga tertentu, maka keris itu akan keluar dari sarung (rumah keris tersebut)."

Kemudian kami bertanya, "Sekarang bagaimana mbah, apakah setiap selapan (35 hari) sekali bapak cuci dan rumat?"

Beliau menjawab, "Sekarang keris itu saya buang ke sungai, karena saya sudah belajar tauhīd."

Lalu kami bertanya, "Apakah manfaat tauhīd?"

Beliau menjawab, "Dengan tauhīd saya menjadi tenang."

Kekuatan hanyalah milik Allāh. Tidak benar jika ada barang-barang tertentu yang memiliki kekuatan yang sifatnya khusus.

Kemuliaan itu milik Allāh, milik Rasūl-Nya dan milik kaum mukminin.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
 
_"Kemuliaan itu dimiliki oleh Allāh, dimiliki oleh Rasūl-Nya dan dimiliki oleh orang-orang yang beriman.” 

(QS Al Munafiqun: 8)

Tentunya di zaman sekarang banyak orang yang sedang banyak masalah, ada sebagian orang yang mempunyai masalah kemudian dia kembalikan urusannya kepada Allāh sehingga dia berada di jalan yang benar.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

_"Larilah kalian menuju Allāh.”_

(QS Adz Dzariyyat: 50)

Tapi ada sebagian orang, begitu memiliki masalah dia tidak mengembalikan masalahnya kepada Allāh, tetapi lari kepada bebatuan, lari kepada keris, lari kepada jimat yang dengannya  dia memiliki anggapan di dalamnya ada kekuatan.

نكتفي بهذا القدر

Demikian, semoga bermanfaat, In syā Allāh kita sambung lagi.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

Senin, 19 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 042: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 4)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Rabi'ul Awwal 1442 H / 20 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 042: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-042
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU (BAGIAN 4)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد


Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Berikutnya Mu'ādz memberikan jawaban:

اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

_"Allāh dan Rasūl-Nya lebih mengetahui.”_

Maka di sinilah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pengajaran, memberikan maklumat, memberikan ilmu.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_“Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba, hendaklah ia beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun._

Hak Allāh (yang semestinya dilakukan seorang hamba kepada Allāh), adalah beribadah. 

Ibadah merupakan perkara (perintah) yang paling agung di dalam kehidupan ini.

Seorang hamba memiliki kewajiban yang paling agung kepada Allāh yaitu untuk beribadah.

Maka dikatakan: 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

_"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”_

(QS Adz Dzariyyat: 56)

Yang dimaksud ibadah (العبادة) adalah:

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة 

_"Nama yang mencakup di dalamnya semua yang Allāh cintai dan Allāh ridha dengannya, baik berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun tersembunyi.”_

Ibadah mencakup banyak hal, misalnya seorang wanita membuatkan teh untuk suaminya, jika dia tujukan untuk Allāh, maka bernilai ibadah.

Seorang laki-laki, keluar dari rumahnya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, jika dia tujuan ibadah maka bernilai ibadah.

Seseorang membaca Al Qur'ān ditujukan kepada Allāh maka ini pun bagian daripada ibadah.

Syaratnya semua dilakukan untuk Allāh. 
  
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

_"Maka laksanakanlah shalat karena Rabb-mu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allāh).”_

(QS Al Kautsar: 2)

Dalam ayat lain:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

_Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan semesta alam."_

(QS Al An’ām: 162)

Maka perintah Allāh yang paling agung adalah beribadah kepada Allāh. 

نكتفي بهذا القدر

Semoga bermanfaat.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 041: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Rabi'ul Awwal 1442 H / 19 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 041: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-041
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU (BAGIAN 3)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد


Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Maka Mu'ādz berkata (setela keduanya naik himār):
فَقَالَ لِي

_Seketika itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda kepadaku:_

 يَا مُعَاذُ

_"Wahai Mu'ādz."_

Begitu sopan santunnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terhadap shahabat Beliau. Dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memanggil Mu'ādz dengan panggilan yang baik.

Yang pertama diawali dengan panggilan: يا (wahai), menunjukan bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hendak memberikan sesuatu kepada Mu'ādz. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memulai panggilan dengan mengatakan, "Wahai."

Beliau tidak berkata, "Hai Mu'ādz."

Beliau tidak memulai dengan mengatakan, "Wahai Adz."

Tapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memanggil sahabatnya dengan panggilan sempurna: "يَا مُعَاذُ".

Di negeri kita kadang orang bernama Budi, cuma dipanggil "Bud" kadang dipanggil "Di" namanya Abdullāh kadang dipanggil "Dullah", kadang di panggil "Aab", kadang dipanggil "Dul".

Perhatikan! Orang-orang Arab memanggil saudaranya dengan panggilan penuh "Yā, Abdurrahman", "Yā, Abdullāh", "Yā,  Abdul Azīz", tidak dipanggil nama terakhir misalnya "Azīz" atau "Dul Azīz”.

Dan terkadang sebagian orang memanggil nama seseorang dengan julukan-julukan yang tidak semestinya diberikan.

فَقَالَ لِي يَا  مُعَاذُ؟

_Seketika itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda kepadaku, "Wahai Mu'ādz."_

أَتَدْرِي مَا حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ؟ 

l
_"Tahukah engkau, apa yang menjadi hak Allāh kepada hamba dan apa yang menjadi kewajiban hamba terhadap Allāh?"_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, b
Beliau berbicara dan Beliau memberikan pertanyaan: أَتَدْرِي. 

Di dalam Al Qur'ān banyak kita jumpai kata-kata: أَدْرَىٰ.

ٱلۡقَارِعَةُ ۞ مَا ٱلۡقَارِعَةُ ۞  وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ


_Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?_

إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ۞  وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ

_Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?_

وَٱلسَّمَاۤءِ وَٱلطَّارِقِ ۞ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ

_Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?_

Maka ketika orang ditanya, ada yang bisa menjawab ada yang tidak bisa menjawab.
 
Yang kedua jika seseorang hendak memberikan pengajaran, memberikan pengajaran banyak macam dan bentuknya. Ada yang sifatnya berita, "Sini tak kasih tahu," itu adalah berita.

Ada uslub, ada suatu cara, dimana cara ini akan menghujam pada seseorang. 

Kapan? 

Tatkala dia ditanya, karena dengan pertanyaan tersebut akan senantiasa dia ingat.

أَتَدْرِي مَا حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ؟ 

_"Tahukah engkau, apa yang menjadi hak Allāh kepada hamba dan apa yang menjadi kewajiban hamba terhadap Allāh?"_

Di sini Mu'ādz mengatakan: 

قُلْتُ اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

_Aku katakan, "Allāh dan Rasūl-Nya lebih tahu."_

Di sini Mu'ādz berkata, "Aku katakan."

Kepada siapa? 

Kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.  

Mu'ādz berkata:

 اَللَّهُ وَرَسُولُهُ 

_"Allah dab Rasul-Nya."_

Karena di sini adalah perkara hebat (agung) dan Mu'ādz sangat sopan santun terhadap Rasūl-Nya.

Sekiranya beliau tahu, maka beliaupun akan diam, kenapa? 

Barangkali Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam akan memberikan jawaban yang lain, apalagi kalau tidak tahu.

Dan banyak kejadian di mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya kepada para shahabat, seperti ketika musim haji.

Ketika musim haji Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya kepada para shahabat:

اي بلد هذا 

_"Negeri apakah ini?"_

Padahal yang dimaksud adalah negeri Mekkah (negeri yang suci). Para shahabat tidak menjawabnya. Karena barangkali Rasūlullāh akan memberikan nama lain untuk kota Mekkah. 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Bukankah ini tanah suci Mekkah?"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya, "Bulan apakah ini?" 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pertanyaan tersebut, Beliau ingin tahu, bagaimana para shahabat menjawab pertanyaan itu.

Para shahabat, mereka tahu jawaban pertanyaan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam akan tetapi mereka tidak menjawabnya. Karena mereka berharap (mungkin) Rasūlullāh akan memberikan nama lain untuk nama bulan suci (bulan Dzulhijjah) karena waktu itu bertepatan dengan musim haji.

Di sini Mu'ādz berkata:

 اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ 

_'Allāh dan Rasūl Nya lebih tahu."_

Beliau tidak berkata, "Rasūluhu," "Rasūlullāh," atau "Anta wa Allāh lebih tahu," tidak! 

Yang dikatakan oleh Mu'ādz adalah:

 اَللَّهُ وَرَسُولُهُ

_Allāh dan Rasūl-Nya._

Perhatikan! 

Bagaimanakah tauhīd yang dimiliki oleh Mu'ādz. 

Dinisbatkan sesuatu kepada Dzat yang berhak untuk memiliki. Maka di sini Mu'ādz berkata Allāh. 

Māsyā Allāh, perhatikan! Bagaimanakah pengagungan Mu'ādz kepada Allāh, kemudian berikutnya: وَرَسُولُهُ (Rasūl Nya). 

Mu'ādz tidak berkata, "Allāh dan Muhammad lebih tahu." Mu'ādz juga tidak berkata, "Allāh dan engkau," tapi Mu'ādz berkata, "Allāh dan Rasūl-Nya (itsbat)."

√ Mu'ādz menetapkan bahwasanya yang berada di depannya adalah utusan Allāh. 

Subhānallāh demikianlah para shahabat, mereka sangat menghormati Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

'Aisyah sangat hormat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, begitu pula istri-istri Beliau yang lain, semua menghormati Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Bahkan Fathimah pun sangat hormat kepada ayahnya, "Ya Rasūlullāh (Wahai utusan Allāh)," luar biasa. 

Bagaimanakah mereka memberikan pengagungan kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Berikutnya: أَعْلَمُ

Kata: علم , memiliki arti mengetahui. Begitu: أعلم , maksudnya adalah "Dzat Yang Maha Mengetahui". 

Di dalam Al Qur'ān dikatakan Allāh adalah Dzat yang Maha Agung:

سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى

_"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”_

(QS Al A'la :1)

Subhānallāh.

Tidak di katakan: على, artinya tinggi.

Al A'la ( ٱلۡأَعۡلَى ) adalah Dzat Yang Maha Tinggi.

Di sini Mu'ādz berkata:

 اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ 

Dalam artian, tidak ada di dunia ini yang memiliki ilmu melebihi ilmunya Allāh dan ilmunya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 


Demikian semoga bermanfaat.


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________________________________

Kamis, 15 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 040: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 2)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 28 Shafar 1442 H / 15 Oktober 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 040: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-040
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU 'ANHU (BAGIAN 2)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد


Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Perhatikan!

Apa kata Mu'ādz bin Jabal? 

كُنْتُ رَدِيفَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ 

_"Suatu saat aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di atas seekor keledai.”_

Pelajaran besar yang bisa kita petik adalah bagaimanakah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam naik (mengendarai) keledai (himār/حِمَارٍ).

Unta dan kuda adalah tunggangan orang-orang Arab. Zaman dahulu mereka (orang-orang Arab) mengendari unta atau kuda, dan ini adalah suatu kehormatan bagi mereka dan menurut sebagian dari mereka, mengendarai seekor keledai adalah suatu kehinaan.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan bantahan bahwasanya naik (mengendarai) keledai bukanlah sesuatu yang hina.

Lihat!  Bagaimana tawadhunya Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam (Beliau mengendarai keledai).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki keledai yang bernama 'Ufair dan unta yang bernama Al Qashwa. 

كُنْتُ رَدِيفَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

_"Dahulu aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.”_

Ini juga menunjukkan dekatnya Mu'ādz dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,  begitupun sebaliknya, māsyā Allāh. 

Dan seseorang yang membonceng maka dia akan duduk berdekatan, menunjukkan bagaimanakah dekatnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu 'anhu. 

Beliau hendak menyampaikan sesuatu  kepada Mu'ādz.

Oleh karenanya hal yang baik bagi kita, apabila kita memiliki masalah dengan teman, maka ajaklah teman itu pergi.

Juga barangkali kita mempunyai anak dan kita ingin memberi nasihat, ajaklah anak kita pergi berdua. 

Karena sesungguhnya orang yang dalam keadaan bepergian jika diberi nasehat, maka nasehat tersebut adalah menghujam di dalam sanubari mereka.

Orang yang bepergian berdua kemudian mereka ada masalah, diharapkan mereka bisa saling terbuka, karena dengan mereka berdua mungkin akan ada unsur keterbukaan.

Sebagian orang memberikan nasehat di depan khalayak sehingga orang pun sulit untuk menerimanya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hendak memberikan sesuatu hal (nasehat) yang menghujam di dalam dada (sanubari) Mu'ādz bin Jabal.

Apakah yang dikatakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam?  

فَقَالَ لِي يَا  مُعَاذُ؟

_Rasulullah bertanya, "Wahai Mu'ādz."_

Faqāla lī (فَقَالَ لِي) di dalam bahasa Arab, apabila ada ungkapan tsuma (ثم) menunjukkan apa yang diucapkan memiliki waktu jeda.

Contoh:

Siswa masuk kelas (دخل الطلاب الفصل فدخل المدرس)
Siswa masuk kelas—> فدخل المدرس
Maka tidak lama sesudah itu langsung masuk seorang pengajar.
Jika disini ada ungkapan ف  menunjukkan tidak ada jeda.

Jika diungkapkan dengan ثم,

 دخل المدرس الفصل، ثم دخل التلامِيْذ

_Guru itu masuk kelas, kemudian (mungkin dua menit mungkin tiga menit) baru masuk siswa._

Dan ini yang kadang terjadi di zaman sekarang, kalau dahulu guru selalu ditunggu kehadirannya dan siswa masuk ke dalam kelas  sebelum guru datang. 

Di zaman sekarang kita kadang sedih, guru sudah masuk kelas, kadang siswa masih ogah-ogahan, dan ini adalah musibah dalam dunia pendidikan.

Musibah lagi di sebagian kampus, ketika guru menyampaikan materi sementara mahasiswanya main HP, tidak memberikan perhatian yang semestinya dia lakukan sebagai seorang siswa, sebagai seorang mahasiswa atau mahasiswi.

Demikian semoga bermanfaat.


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

Selasa, 13 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 039: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 1)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 27 Shafar 1442 H / 14 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 039: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-039
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 1)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله. رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما

Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Kembali kita lanjutkan materi kita yaitu pembahasan Kitāb Tauhīd. Pada kesempatan yang lewat telah kita bahas yaitu: وصايا العشر.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas hadīts: اعظيم (hadīts mulia). Hadīts yang diriwayatkan oleh Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu 'anhu. 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ -قَالَ:» كُنْتُ رَدِيفَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِي يَا  مُعَاذُ؟ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ؟ قُلْتُ اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ أَنْ لا يُعَذِّبَ مَنْ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَفَلا أُبَشِّرُ اَلنَّاسَ؟ قَالَ لا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا~ اخرجه الصحيحين~

_Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledainya._

_Beliau bertanya, “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba yang akan Allah tunaikan?”_

_Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”_

_Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba, hendaklah ia menyembah Allah dan tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang akan Allah tunaikan yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.”_

_Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh memberitahukan kabar gembira tersebut pada yang lain?”_

_Beliau menjawab, “Jangan kabari mereka. Nanti malah mereka malas beramal.”_

_(HR Bukhāri dan Muslim)_

Hadīts ini adalah hadīts yang mulia terkait dengan perkara tauhīd. 

Mu'ādz ibnu Jabal adalah sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mulia. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam telah mengutusnya ke negeri Yaman. Dan tidaklah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengutus seseorang kecuali orang tersebut adalah orang pilihan.

Sehingga di sini dikatakan عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ (semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhainya). 

Tidaklah ada seseorang yang mendapatkan suatu nikmat melebihi nikmatnya menjadi shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Karena dari Adam sampai akhir zaman, yang terbaik adalah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.  

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

أنا سيد ولد آدم، ولا فخر

_"Aku adalah anak keturunan Adam yang terbaik dan aku tidak membanggakan diri."_

Dalam hadīts lain dikatakan:

لا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

_"Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nashrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam.”_

Yaitu memberikan pujian yang lebih, orang-orang Nashrani tentunya berbeda dengan orang-orang Yahudi. 

Orang Yahudi bersikap terhadap Nabi Isa dengan mengatakan, "Nabi Isa adalah anak pelacur." Adapun orang-orang Nashrani memberikan sanjungan kepada Nabiyullāh Isa berlebihan, sehingga mereka menjadikan Nabiyullāh Isa sebagai tuhan atau anak tuhan.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pengarahan:

لا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

_"Janganlah kalian mengkultuskan aku, sebagaimana orang-orang Nashrani (kristiani) mengkultuskan Isa ibnu Maryam.”_

فَقُولوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ 

_Maka katakanlah, "Hamba Allāh dan Rasūl-Nya.”_

Begitu juga Nabi Isa alayhissalām, beliau adalah hamba Allāh dan Rasūl-Nya. 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ

_Dari Mu'ādz bin Jabal semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla meridhainya._

Menunjukkan Mu'ādz ibn Jabal adalah sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Rasūl ridha dengannya, Allāh pun ridha dengannya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ

_"Allāh ridha dengan mereka dan mereka pun ridha dengan Allāh.”_

Demikian, semoga bermanfaat.


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Senin, 12 Oktober 2020

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 038: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Shafar 1442 H / 13 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 038: Surat Al-An’am Ayat 151-153 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-038
〰〰〰〰〰〰〰

*SURAT AL AN'ĀM: 151-153 (LANJUTAN)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله.
رضيت بالله رباًّ وبلإ سلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً ربي زدني علما ورزقني فهما


 و شهيدٌ

_Dan syuhada._

Syuhada adalah orang-orang yang mati syahid, māsyā Allāh.

Kita berdo'a kepada Allāh agar dijauhkan dari penyakit yang mewabah belakang ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan petunjuk agar kita berdo'a:

اللَّهمَّ إِنِّي أَعُوُذُ بِكَ مِنَ الْبرَصِ، وَالجُنُونِ، والجُذَامِ، وسّيءِ الأَسْقامِ

_"Yā Allāh, Aku memohon kepada-Mu, agar kami dijauhkan dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit yang buruk."_

(Hadīts shahīh Abū Dāwūd nomor 1554, Ahmad, 3: 192, dari Anas radhiyallāhu 'anhu. Syaikh Al Albaniy mengatakan bahwa hadīts ini shahih)

Oleh karena itu kita harus berdo'a kepada Allāh agar dijauhkan dari penyakit-penyakit yang buruk.



Yang terakhir adalah:

 الصالحين 

_Orang-orang yang shalih._

Yaitu agar kita menjadi orang-orang yang shālih, berteman dengan orang-orang shalīh. 

Orang jawa mengatakan,  "Wong shālih kumpulono," bertemanlah dengan orang-orang yang baik.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan: 

مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَمثل جَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ

_"Orang yang berteman dengan orang yang baik, perumpamannya seperti orang yang berteman dengan seorang penjual minyak wangi, berteman dengan orang yang buruk, seperti berteman dengan seorang pandai besi.”_

Bagaimanakah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan ungkapan orang yang berteman dengan seorang penjual minyak wangi?

إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً

_"Mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya."_


Penjual minyak wangi, jika hatinya longgar dan kita berteman dengannya kita akan diberi minyak wangi. Jika hatinya tidak lego, alhamdulillāh kita punya uang, kita bisa membeli minyak wanginya. Kalau pun tidak, jika hatinya tidak lego dan kita pun tidak memiliki uang maka jika dia memakai minyak wangi maka kita akan mendapatkan bau wangi.

Bagaimana jika kita berteman dengan orang yang buruk? 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

 كنَافِخُ الكِيرِ 

_"Seperti berteman dengan seorang pandai besi."_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan dua pilihan:

  إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ 

_"Akan terkena percikan api."_

Atau:

 وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً متفقٌ 

_"Akan mendapatkan bau  yang buruk."_


Selanjutnya, Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan: 

وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ 

_"Dan janganlah kalian mengikuti jalan (yang berada di kiri dan kanan ini)."_

Di dalam ayat lain dikatakan:

قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ 

_"(Wahai Muhammad) katakanlah ini adalah jalan yang aku tempuh."_

Allāh menyebutkan:

فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

_"(Sekiranya kalian mengikuti garis yang berada di kiri atau kanan ini, dan kalian meninggalkan garis yang lurus) niscya kalian akan bercerai berai.”_

Allāh menyebutkan: 

ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_"Demikianlah Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan wasiat kepada kalian agar kalian  bertakwa.”_

Kita banyak berdo'a semoga kita menjadi hamba-hamba Allāh yang bertakwa. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling bertakwa.

Allāh berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ

_"Orang yang paling mulia di sisi Allāh adalah orang yang paling bertakwa."_

( QS. Al Hujurat: 13)

Terima kasih atas perhatiannya, lain waktu kita sambung lagi.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_________________________