Selasa, 10 November 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqoh 055: Keutamaan Tauhīd Bagian Ketujuh

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu 25 Rabi'ul Awwal 1442 H/ 11 November  2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 055: Keutamaan Tauhīd Bagian Ketujuh
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-055
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD BAGIAN KETUJUH*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Dikatakan: 
 
إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

"Kecuali mereka yang bersaksi dengan haq" 

Yang di maksud dengan bersaksi dengan yang haq adalah kalimat tauhīd وهم يعلمون di sebutkan di dalam surat Az-Zukhruf ayat 86.


وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

"Dan mereka mengenalnya"

وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

"Dan mereka sadar diri"

وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

"Dan mereka mengetahui"

Perhatikan! 

Bagaimanakah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, memberikan pujian kepada mereka yang bertauhīd. 

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ

وَحْدَهُ

"Hanya (Dia) Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata yang berhak untuk disembah"

لاَ شَرِيكَ لَهُ

"Dan tidak ada syarikat baginya"

لاَ شَرِيكَ لَهُ

"Tidak ada sekutu bagi Allāh"

Tentunya Allāh berfirman:

إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

"Kecuali mereka yang bersaksi dengan kalimat tauhīd dan mereka mengenalnya"

Begitu kita berbicara, mereka bersaksi akan kebenaran tauhīd dan mereka mengetahui. Yang namanya ilmu bisa digali yang dikenal dengan mukasabah.

Ilmu itu bisa dicari yang di kenal dengan muktasab, ilmu yang bisa dipelajari.

Ilmu juga sifatnya adalah ghariji, ilmu tersebut ada dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah tanamkan kepada semua orang. 

Begitu kita berbicara ilmu itu ghariji maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَة

"Setiap jiwa dilahirkan atas fitrah"

Menunjukkan tidak ada orang di dunia ini ujug-ujug (tiba-tiba), tiba-tiba jatuh dari langit. Tidak ada! Tidak mungkin!

Adam alayhissalām adalah orang yang pertama Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan di dunia ini.

Allāh menciptakan Adam, kemudian Allāh menciptakan Hawa sesudah itu semua yang lahir melalui proses dengan يُوْلَدُ dilahirkan. Bahkan nabiyullāh Isa alayhissalām pun dilahirkan dari perut seorang wanita yang mulia yaitu Maryam.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)"

(QS. Az-Zukhruf:86)

Tadi kita sampaikan bahwasanya orang itu mengenal Allāh dengan ghariji.

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَة

Disebutkan di dalam hadīts riwayat Imam Al- Bukhari dari jalan Abū Hurairah.

"Semua orang dilahirkan dalam keadaan bertauhīd"

Dan yakin seorang mukmin bahwasanya Tuhannya ada di atas, bisa diperhatikan jika seseorang sedang berdo'a maka orang tersebut akan menemgadahkan kedua tangannya ke arah langit, menunjukkan  Tuhan itu di atas.

Jika kita bersaksi (bersumpah) dengan mengatakan,"Wallāhu, Tallāhu, Billāhi" sambil menunjukkan telunjuk kita ke arah atas. Menunjukkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di atas, dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dzaat yang Maha Esa.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:


كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَة

"Setiap yang dilahirkan atas fitrah"

⇒ Yang di maksud fitrah adalah tauhīd. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ

"Fitrah Allāh yang telah Allāh tetapkan kepada manusia"

(QS. Ar-Rum:30)

Dan ilmu mengenal Allāh bisa jadi dengan cara seseorang itu menggali, dengan cara belajar, dengan cara memperhatikan, memperhatikan tanda di antara tanda kebesaran Allāh (bertafakur).

Bertafakur adanya matahari terbit, jika seseorang memperhatikan bagaimanakah matahari itu terbit maka dia melihat bagaimana keagungan Allāh. 

Maka berapa banyak mereka yang di pagi hari pergi ke pantai, berapa banyak mereka yang ke gunung. 

Apa target mereka?

Target mereka adalah matahari terbit dan dia berada di atas gunung.

Māsyā Allāh. 

Melihat di antara tanda kekuasaan Allāh. 

Matahari pun terbit pun, sinar pun senantiasa dirasa dengan baik di kulit terasa hangat, dikulit terasa nikmat, begitu sudah jam 10 siang sudah mulai panas, setengah sebelas tambah panas, Subhānallāh.

Dhuhur tambah panas, sehingga sesudah itu seseorang shalat dhuhur mengagungkan Allāh keluar dari masjid tidak lupa berdo'a.

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ 

Subhānallāh.

Seorang mukmin bertauhīd karena sesudah shalat seseorang dianjurkan untuk mencari karunia yang Allāh berikan, maka dia berdo'a.

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

"Yā Allāh,  aku memohon kepadamu karunia yang telah Engkau tetapkan"

Măsyā Allāh. 

Terkadang seseorang lupa berdo'a, jika keluar dari masjid seseorang diharuskan berdo'a, sebagaimana masuk masjid juga berdo'a.

 اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

"Yā Allāh bukakanlah untukku, pintu-pintu rahmatMu"

Māsyā Allāh. 

Karena sesungguhnya masjid itu penuh dengan rahmat.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allāh membaca Kitabullāh dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allāh akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” 

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2699)

Do'a ketika masuk masjid: 

اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

"Yā Allāh bukakanlah untukku, pintu-pintu rahmatMu"

Do'a ketik keluar masjid:

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

"Yā Allāh,  aku memohon kepadamu karunia yang telah Engkau tetapkan"

Karunia Allāh sangat luas, begitu keluar masjid Māsyā Allāh ada yang langsung ke warung Padang, ada yang ke warung Tegal, ada yang ke warung Sunda, ada yang cari soto, ada yang mencari bakso, ada yang mencari sate.

Subhānallāh.

Perhatikan! Semuanya mereka mendapatkan haknya.

Ada yang suka bakso maka mereka mencari bakso.

Ada yang suka mie ayam, mereka mencari mie ayam.

Ada yang suka sate maka mereka mencari sate.

Subhānallāh.

Semuanya bisa makan dengan baik, karena karunia Allāh. 

Maka disini orang bisa mengenal Allāh dengan tanda di antara tanda kebesarannya.

Mungkin habis makan ada yang selesai makan langsung pulang karena pekerjaan selesai. Ada juga yang kembali ke kantor.

Melihat tanda kekuasaan Allāh, gerimis.
Melihat tanda kekuasaan Allāh begitu ashar moodnya mau pulang.

Subhānallāh, hujan pun reda, dia pun senang memasuki pagi dengan baik sampai sore hari dalam keadaan baik.

Māsyā Allāh. 

Begitu sampai rumah ketemu istri, istri sehat, anak sehat ,orang tua sehat. Māsyā Allāh. 

Sudah berkumpul semua di rumah, hujan lagi luar biasa. oh Māsyā Allāh. 

Tanda di antara tanda kebesaran Allāh,  maghrib pun datang, Māsyā Allāh. 

Matahari terbenam tanda di antara tanda kebesaran Allāh,  di malam hari mendengar suara jangkrik, di malam hari mendengar suara belalang, di malam hari melihat kegelapan malam. 

Māsyā Allāh. 

Dan dia bertafakur, tidak mungkin ini semua ada begitu saja kecuali di sana ada dzaat yang mengaturnya, demikianlah seorang mukmin mengenal Tuhan Nya.

Nataufīq bihadzal qadar, terima kasih atas segala perhatiannya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 054: Keutamaan Tauhīd Bagian Keenam

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Rabi'ul Awwal 1442 H/ 10 November 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 054: Keutamaan Tauhīd Bagian Keenam
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-054
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN KEENAM)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ

_Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada dzaat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh dan tiada sekutu bagi-Nya_
 

Man (مَنْ): "Barangsiapa".

Syahida (شَهِدَ): "Bersaksi".

Māsyā Allāh. 

Perhatikan! 

Karena sesungguhnya semua manusia tatkala berada di dalam kandungan, bahkan para arwah telah ditanya oleh Allāh:

أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ

_“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”_

Maka semua arwah, calon-calon manusia, semua mengatakan:  

 قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ

_"Kami bersaksi (akan ke-Esa-an, Engkau yā Allāh)."_
 
(QS. Al A'rāf: 172)

Tidak ada suatu kemuliaan tatkala seseorang hidup, melebihi seseorang mentauhīdkan Allāh. 

Maka di sini:

مَنْ شَهِدَ

_"Barangsiapa yang bersaksi."_

Tentunya seseorang bersaksi dengan ucapan, seseorang adalah muwahīd (bertauhīd) setelah dia bersaksi.

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

_"Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh."_

Perhatikan!

Seseorang bersaksi bahwasanya tidak ada dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh. 

Maka di sini adalah kata-kata:  لاَ إِلَهَ  , yang dikenal dengan an-nafiyyu (peniadaan), atau sesuatu hal yang tidak mungkin ada.

Berikut adalah: إِلاَّ اللَّهُ , yaitu penetapan.

Maka dikatakan: 

النفي أبلغ  من الإثبات

_"Peniadaan itu lebih gamblang (lebih jelas) di banding penetapan."_

Maka di dahulukan kata-kata: لاَ إِلَهَ , tidak ada dzat yang berhak untuk disembah.

Menunjukkan kufur terhadap thāghut (semua yang disembah selain Allāh adalah thāghut) dan beriman kepada Allāh.

مَنْ شَهِدَ 

_"Barangsiapa yang bersaksi."_

Māsyā Allāh. 

Maka di sini orang bersaksi dengan ucapan.

Bagaimana dengan orang yang tidak bisa berbicara?

⇒ Orang yang tidak bisa berbicara dia bisa menulis, dia bersaksi (masuk Islām) bisa dengan menulis dan meyakini apa yang dia tulis adalah haq. 

Bagaimana dengan orang yang  tidak bisa menulis dan bisu, kemudian dia ingin masuk Islām?  

⇒ Seorang kyai atau seorang ustadz melafazhkan kalimat tauhīd, kemudian orang yang akan masuk Islām menganggukan kepalanya, (menganggukan isyarat) bahwasanya dia bersaks maka dia menjadi orang yang muwahīd. 

Mengangguk adalah isyarat bahwasanya dia bersaksi: مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ.

Nataufīq bihadzal qadar, terima kasih atas segala perhatiannya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Minggu, 08 November 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 053: Keutamaan Tauhīd Bagian Kelima

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Rabi'ul Awwal 1442 H / 09 November 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 053: Keutamaan Tauhīd Bagian Kelima
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-053
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN KELIMA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Ikhwah fīlllāh rahimakumullāh.

Kembali kita bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan.Diantara nikmat dan karunia itu adalah seorang menjadi muwahīd yaitu orang yang bertauhīd.

Kembali kita lanjutkan materi kita masih di Kitāb Tauhīd, masih pada pembahasan Fadhul Tauhīd.

وما يكفر من الذنوب

_▪︎Keutamaan tauhīd dan apa yang bisa menggugurkan dari dosa-dosa yang ada_

Pada pembahasan yang lewat telah kami bahas firman Allāh:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

_"Mereka orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kezhaliman, mereka akan memperoleh keamanan dan mereka akan memperoleh petunjuk._

(QS. Al An'ām: 82)

Dan pada pembahasan yang lewat bahwasanya  para shahabat, mereka khawatir dengan apa yang terkandung di dalam ayat tersebut, sehingga shahabat berkata:

أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ 

_"(Wahai Nabi Allāh,) siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kezhaliman?"_

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata:

لَيْسَ الأمر كَمَا تَظُنُّونَ

_"Perkaranya bukan seperti apa yang kalian duga."_

انما المراد به الشرك

_Yang di maksudkan ("Kami tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kezhaliman.") adalah syirik._

ألم تسمعوا إلى قول الرجل الصالح - يعني لقمان

_"Bukankah telah kalian dengar apa yang menjadi perkataan seorang laki-laki yang shalih (hamba Allāh yang shalih) yaitu Luqmān.)_

إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

_"Sesungguhnya syirik (mempersekutukan Allāh) merupakan kezaliman yang paling besar,_

(QS. Luqmān: 13)

Kita lanjutkan pembahasan selanjutnya yaitu hadīts Ubādah bin Shāmit. 

'Ubādah ibn Shāmit adalah sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang sangat mulia, beliau di kenal dengan ketaqwaannya. 

Abdun adalah hamba.
'Ubādah adalah hamba.
'Abad adalah orang yang ahli ibadah.

Hadīts ini adalah hadīts yang shahīh diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhāri 3435.

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ، وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ ‏

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه

Ikhwan wa Akhawatiy fīlllāh rahimakumullāh. 

Salah satu di antara hal yang patut dibaca tatkala seseorang mendengar rasūl, tatkala seseorang membaca "Muhammad" maka dianjurkan untuk membaca "shallallāhu 'alayhi wa sallam".

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صلاة صلى الله بها عَشْرًا

_"Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberikan pahala 10 kali."_

Māsyā Allāh. 

Terkadang kita jumpai, sebagian orang begitu menulis "Muhammad" terkadang di singkat ص atau صم, kalau orang Indonesia meningkat dengan "saw".

Ada seorang siswa diminta oleh seorang guru untuk menulis sebuah hadīts,  begitu ditulis ص dan م maka guru tersebut memberikan teguran kepada siswa tadi.

"Anta bakhil," kata guru tersebut.

"Panjenengan niki cethil."

"Anda ini pelit"

Kenapa? 

Karena orang yang ketika di sebut nama Nabi kemudian tidak membaca shalawat maka di anggap pelit, di anggap cethil, di anggap medhit .

Begitu juga di dalam penulisan bahasa Indonesia harus ditulis dengan lengkap shallallāhu 'alayhi wa sallam,  tidak disingkat dengan ص atau ص dan م atau صل atau dalam bahasa Indonesia "saw". Untuk Allāh "swt" (Subhānahu wa Ta'āla). 

Maka ketika kita mendengar nama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam disebut, baik itu gelar, julukannya atau namanya kita mengucapkan "shallallāhu 'alayhi wa sallam".

√ Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. 
√ Rasūl shallallāhu 'alayhi wa sallam. 
√ An Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Demikian seseorang untuk tidak pelit.
Demikian seseorang untuk melatih dirinya untuk melakukan suatu ketaatan (ibadah-ibadah lisan).

Nataufīq bihadzal qadar, terima kasih atas segala perhatiannya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Kamis, 05 November 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 052: Keutamaan Tauhīd (Bagian Keempat)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 19 Rabi'ul Awwal 1442 H / 05 November 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 052: Keutamaan Tauhīd (Bagian Keempat) 
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-052
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN KEEMPAT)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Dikatakan:

هُمُ الْآمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

_"Mereka adalah orang-orang yang aman pada hari kiamat."_

الْمُهْتَدُونَ في الدني و الآخيره

_(Bahkan) mereka ini di dunia akan senantiasa mendapat bimbingan (petunjuk) dari Allāh, tatkala mereka di dunia dan di akhirat.)_

Ada salah satu do'a yang disebutkan di dalam Al Qur'ān:

تَوَفَّنِى مُسْلِمًۭا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّـٰلِحِينَ

_"Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan perjumpakan (gabungkanlah) kami dengan orang-orang yang shalih."_

(QS. Yusuf: 101)

Abdullāh Ibnu Mas'ūd tatkala turun firman Allāh:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

_"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."_

Dikatakan:

لما نزل هذه الآية، قَالُوا: أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟

_(Abdullāh ibnu Mas'ūd meriwayatkan) tatkala turun ayat ini maka para sahabat berkata, "Siapakah di antara kami yang tidak pernah melakukan kezhaliman?"_

Kenapa? 

Karena yang namanya kezhaliman pasti terjadi disengaja atau tidak.

Anak terkadang melakukan kezhaliman kepada ayahnya atau kepada ibunya.

Ibu dan ayah terkadang melakukan kezhaliman kepada anak-anaknya.

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menepis apa yang menjadi persangkaan Abdullāh bin Mas'ūd. 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membawakan firman Allāh:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

_"Sesungguhnya syirik merupakan kezhaliman yang paling agung."_

(QS. Luqman: 13)

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhāri, tatkala turun ayat: ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ , para shahabat berkata:

قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ 

_"Wahai Rasūlullāh, siapakah di antara kami yang tidak melakukan kezhaliman?"_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ‏ 

_"Bukan seperti apa yang kalian maksudkan dari ucapan kalian."_

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan penjelasan:

لم يلبس إيمانهم بظلم بشرك 

_"Yang di maksud tidak melakukan kezhaliman maksudnya tidak melakukan kesyirikan (tidak pernah menyekutukan Allāh dalam hal peribadatan)."_

أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ‏{‏يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ‏

_"Bukankah kalian mendengar apa yang menjadi perkataan Luqman kepada putranya: Janganlah engkau menyekutukan Allāh, sesunggguhnya syirik merupakan kezhaliman yang besar."_

Begitu juga dari Imam Ahmad:

لما نزلت ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ شق ذلك على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

_Tatkala turun ayat ini maka para shahabat sedih (hatinya merasa berat)._

وقالوا أينا لا يظلم نفسه 

_Maka mereka berkata, "Wahai Nabi Allāh,  siapakah di antara kami yang tidak pernah melakukan kezhaliman atas dirinya?"_

قال إنه ليس الذي تعنون 

_"Bukan seperti yang kalian sangka."_

ألم تسمعوا ما قال العبد الصالح

_"Bukankah telah berkata Al 'Abdu As Shalih (hamba Allāh yang shalih)."_

Kita jumpai di dalam Al-Qur'ān ada satu surat yang bernama surat Luqman dan sebagian mengatakan bahwasanya Luqman adalah seorang nabi dan sebagian lagi mengatakan Luqman adalah seorang rasul.

Ada yang memberikan pernyataan bahwa Luqman adalah Abdun atau Abdullāh (hamba Allāh), maka yang benar. Luqman bukanlah nabi  atau rasul tetapi Luqman adalah Al 'Abdu As Shalih (hamba Allāh yang shalih).

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda tentang nasehat Luqman kepada putranya:

يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ‏

_"Wahai putraku, janganlah engkau menyekutukan Allāh, sesunggguhnya syirik merupakan kezhaliman yang nyata (yang besar)."_

Umar bin Khaththāb menafsirkan وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ , adalah seseorang yang menghadap Allāh dia tidak membawa dosa, sehingga artinya dia merasa aman dari semua jenis petaka. 

Imam Al Hasan, begitu juga Al Kalbi, beliau mengatakan:

"Maka mereka akan memperoleh rasa aman waktu di akhirat nanti dan mereka berjalan di atas petunjuk."

Syaikhul Islām rahimahullāh tatkala mengomentari ayat ini, di katakan:

"Mereka orang-orang yang merasa berat, mereka menyangka bahwasanya kezhaliman tersebut adalah suatu hal yang pasti yaitu kezhaliman yang dilakukan oleh hamba itu sendiri, karena setiap orang pasti melakukan kezhaliman sehingga dia tidak akan memperoleh keamanan, tidak memperoleh petunjuk, kecuali siapa saja yang tidak pernah melalukan kezhaliman pada dirinya."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan penjelasan yang menjadi kehendak Allāh di dalam surat tersebut adalah:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ في كتاب الله 

_Yang dimaksud tidak melakukan kezhaliman di sini adalah syirik, dan syirik merupakan kezhaliman sebagaimana disebutkan di dalam kitāb Allāh._

Sehingga jika seseorang melakukan syirik maka dia tidak akan memperoleh keamanan, tidak akan memperoleh ketenangan.

Demikian kajian kita di kesempatan hari ini, lain waktu In syā Allāh kita berikan penjelasan lainnya.

Terima Kasih atas segala perhatiannya.

Jazākumullāh Khayran alā husni ihtimāmikum.


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

_______________________

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 051: Keutamaan Tauhīd (Bagian Ketiga)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Rabi'ul Awwal 1442 H / 04 November 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 051: Keutamaan Tauhīd (Bagian Ketiga) 
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-051
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN KETIGA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 
 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

_"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."_

(QS. Al An'ām: 82) 

Maka mereka akan memperoleh: ٱلۡأَمۡنُ (ketenangan), وَهُم مُّهۡتَدُونَ (dan mereka akan diberi petunjuk).

Disini Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan pernyataan bahwasanya orang yang beriman (imannya benar) dan tidak melakukan berbagai macam kezhaliman, maka Allāh akan memberikan: ٱلۡأَمۡن (keamanan), memperoleh as sakinah. 

Allāh memberikan pernyataan bahwasanya orang-orang Quraish ketika musim panas mereka berdagang ke negeri Syām dan ketika musim dingin mereka berdagang ke negeri Yaman.

Allāh berfirman: 

ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍۢ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ

_"Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla Dzaat yang telah memberikan kepada mereka rasa cukup (cukup makan, cukup minum) tatkala mereka lapar, dan Allāh memberikan rasa aman dari rasa ketakutan."_

(QS. Al Quraish: 4)

Ada orang yang hidupnya selalu diliputi rasa takut (tidak bisa makan) dan rasa tidak nyaman, maka kita harus bersyukur kepada Allāh karena kita masih bisa makan dan minum dengan baik. Alhamdulillāh apa yang menjadi harapan dan cita-cita kita, kita peroleh dengan mudah tanpa ada hal yang menghalangi. 

Ikhwan akhawatiy fīllāh rahimakumullāh 

Ibnu Jarīr ketika beliau mengomentari firman Allāh diatas (QS. Al An'ām: 82), beliau mengatakan, dari Arabiy ibn Annas dia berkata:

الإخلاص لله وحده

_"Ikhlas itu hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata."_

Iman adalah segala sesuatu yang ditunaikan/ dikerjakan/dilakukan untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

Ibnu Katsīr mengatakan: 

أي : هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده، ولم يُشرِكوا به شيئًا

_"Mereka orang-orang yang ikhlas di dalam beribadah karena Allāh semata dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun."_

Tentunya suatu hal yang berat. Ketika eseorang melakukan suatu amal  pasti banyak godaan.  Orang hidup pasti banyak cobaan, biasanya menenggok ke kanan atau ke kiri, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Allāh. 

Māsyā Allāh. 

Maka dikatakan: 

الذين أخلصوا العبادة لله وحده

_"Mereka yang konsentrasi di dalam beribadah untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata."_

Salah satu di antara penjelasan yang disebutkan para ulama yaitu, "Sekiranya kamu beribadah sendiri di padang pasir pun maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menguatnya."

Māsyā Allāh 

Dalam artian, apa yang dilakukan oleh seorang hamba diketahui oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Walau orang tersebut sudah menyembunyikannya namun terkadang orang lain tahu.

Al Imam Al Bukhāri rahimahullāh adalah seorang yang sangat ikhlas. Tatkala beliau selesai mengajar dan siswanya sudah diperkenankan untuk pergi karena pembelajaran sudah selesai, beliau rahimahullāh masih tetap berada di masjid sampai beliau yakin tidak ada orang yang melihat.

Kemudian beliau rahimahullāh mengambil benang yang menempel di atas karpet dan mengantonginya. Beliau merasa sudah melakukan perbuatan menyembunyikan amal tetapi salah seorang siswanya melihat dari kejauhan sehingga cerita tersebut beredar sampai sekarang. Māsyā Allāh. 

Bahkan seseorang melakukan ketaatan dan  diketahui oleh banyak orang setelah dia meninggal dunia sebagaimana yang dilakukan oleh Zainal Abidin keturunan Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu 'anhu. 

Zainal Abidin sering melakukan ketaatan. Beliau bersedekah gandum untuk para janda di Madīnah. Dan para janda itu tidak tahu siapa yang telah melakukan amal shalih tersebut. Begitu Zainal Abidin rahimahullāh meninggal dunia dan ketika beliau dimandikan ada bekas kapal (kulit menebal) di pundaknya, sehingga orang-orang mengetahui bahwa selama ini beliau adalah orang yang memanggul gandum.

Terima kasih atas segala perhatiannya.

Jazākumullāh Khayran alā husni ihtimāmikum. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Senin, 02 November 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 050: Keutamaan Tauhīd (Bagian Kedua)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Rabi'ul Awwal 1442 H / 03 November 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 050: Keutamaan Tauhīd (Bagian Kedua) 
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-050
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN KEDUA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 
 

بْيَان فضل التوحيد وما يكفر من الذنوب

Penjelasan terkait dengan keutamaan Tauhīd dan apa-apa yang bisa menghapus dosa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

_"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."_

(QS. Al An'ām: 82) 

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

_"Mereka orang-orang yang beriman."_

Kemuliaan bagi mereka yang beriman kepada Allāh, dan bentuk kasih sayang Allāh kepada manusia adalah Allāh mengajak manusia berbicara:

 يا ايها الناس 

_"Wahai para manusia."_

Manusia macam-macam, ada yang memeluk ahlul kitāb yaitu penganut Yahudi dan Kristiani.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

قل يا محمد، قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰب

_"Wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka ahlul kitāb (yahudi dan Nasrani)."_

Allāh ungkapkan dengan: قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰب .

Māsyā Allāh, Indahnya, bagaimanakah Allāh perintahkan kepada Rasūl-Nya untuk mengajak agar mereka bertauhīd. 

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ 

_"Wahai ahlul kitāb, kemarilah ke suatu tempat yang tinggi."_

Māsyā Allāh. 

Terkadang Allāh mengajak bicara orang-orang kafir dengan kekufuran mereka.

Sebagaimana firman Allāh:

قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْكَـٰفِرُونَ

_Katakanlah, "Wahai orang-orang kafir."_

(QS. Al Kāfirun: 1)

Dan Allāh memuliakan orang-orang yang beriman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ 

_"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa..."_

(QS. Al Baqarah: 183)

Menunjukkan sifat rahmat Allāh, yang Allāh berikan kepada orang-orang yang beriman, sehingga Allāh memberikan pernyataan: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ (mereka orang-orang yang beriman).

وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ

Yalbisa-yalbasu memiliki arti memakai.

Bagaimanakah Allāh mengungkapkan iman dihiasi, karena sesungguhnya manusia itu berhias.

يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍۢ ....

_"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid....."_

(QS. Al A'rāf: 31)

Orang jawa mengatakan, 

"Ajining dhiri ono ing kedaling lathi."
"Ajining salira ono ing busana."

Ma'ruf ungkapan Jawa ini.

Ajining dhiri ono ing kedaling lathi adalah terhormatnya seseorang bisa dilihat bagaimana dia bertutur kata. 

Dan seseorang bisa dilihat kemuliaannya dari bagaimana dia berpenampilan, bagaimana dia berpakaian, maka pakaian adalah hal yang mulia.

Allāh berfirman:

وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَى

_"Dan pakaian takwa itulah yang paling baik."_

(QS. Al A'rāf: 26)

Taqwa adalah sesuatu hal yang menghujam pada diri seseorang, sehingga dia melakukan apa yang menjadi perintah Allāh dan berusaha untuk menjauhi larangannya.

Dan Allāh berfirman:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ......

_"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."_

(QS. Al Baqarah: 197)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan suatu keistimewaan dengan suatu penamaan. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan pernyataan: 

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ

_"Mereka orang-orang yang beriman dan mereka tidak menjadikan keimanan tersebut diberi hiasan (diberi pakaian) dengan kezhaliman."_

Mereka orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kezhaliman,  karena kezhaliman adalah sesuatu yang dilarang.

Disebutkan di dalam hadīts qudsi Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا

_"Sesungguhnya aku mengharamkan kezhaliman atas diriku dan aku jadikan kezhaliman adalah suatu yang diharamkan (dilarang)."_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
 
فَلَا تَظلمُوا 

_"Wahai kalian kaum mukminin, janganlah satu sama lain saling melakukan kezhaliman."_

Di dalam hadīts lain Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الظلم ظلمات يوم القيامة

_"Kezhaliman itu adalah kegelapan yang luar biasa di hari kiamat."_

Sesungguhnya kezhaliman apapun pada hari kiamat akan ada hisabnya (balasannya).


Terima kasih atas segala perhatiannya.

Jazākumullāh Khayran alā husni ihtimāmikum. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Minggu, 01 November 2020

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah 049: Keutamaan Tauhīd (Bagian Pertama)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Rabi'ul Awwal 1442 H / 2 November 2020 M 
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 049: Keutamaan Tauhīd (Bagian Pertama) 
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-049
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN TAUHĪD (BAGIAN PERTAMA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً ، قال الله تعالى في كتاب الكريم الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ 

Ikhwan Akhwat fīllāh rahimakumullāh. 

Pemirsa dan pendengar yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunianya.

Kembali kita bersyukur kepada Allāh bisa melanjutkan kajian tauhīd, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhai kita semua. Aamiin Yā Rabbal 'alamīn.

Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada keluarganya, shahabatnya, pengikutnya hingga akhir zaman.

Kajian kita pada kesempatan hari ini kita akan membahas yaitu:

بْيَان فضل التوحيد وما يكفر من الذنوب

_Penjelasan Keutamaan Tauhīd dan Apa-apa Yang Menggugurkan Dosa._

Bayān (بْيَان) adalah penjelasan, syarah atau keterangan.

Terkadang seseorang mendengar suatu perkara dan dia bisa langsung paham. Ada juga yang bisa memahami suatu masalah setelah mendapatkan penjelasan.

Dan tidak ada penjelasan yang mulia melebihi penjelasan yang menjadi kehendak Allāh kepada hamba-Nya yaitu Tauhīd. 

Semua nabi datang kepada umatnya untuk mengajarkan Tauhīd. Karena itulah kenapa manusia diciptakan.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

_"Dan tidaklah, kami ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka meng-Esa-kan Allāh."_

(QS. Adz Dzariyat: 56)



Fadhlun (فضل) adalah keutamaan, afdhaliyyah ( افضلية) adalah keistimewaan, jadi:

بْيَان فضل

_"Penjelasan terkait dengan keutamaan."_

⇒ Menunjukkan sesuatu itu memiliki keistimewaan. 

Ada sebagian orang memiliki kekurangan tetapi dibalik kekurangannya terkadang ada keistimewaannya. Seseorang kadang memiliki kelebihan, namun dibalik kelebihannya terkadang ada juga kekurangannya.

Ketika anda merendahkan seseorang ketahuilah bahwasanya seseorang itu memiliki keistimewaan. 

Dan keistimewaan seluruh rasul adalah mengajarkan hal yang sama yaitu Tauhīd. 

Fadhl (فضل) adalah keutamaan, kemuliaan dan  kelebihan.

At tauhīd (التوحيد) adalah 'aqidah. 

جعلُ الشيءِ متعدِّد واحد

_"Menjadikan sesuatu yang jumlahnya banyak menjadi satu adalah Tauhīd."_

Seseorang mengambil lidi, dengan mudahnya lidi tadi dipotong.

Seseorang mengambil 5 (lima) lidi dengan mudahnya pula lidi itu dipotong.

Tentunya jumlah satu dan lima lidi berbeda, apalagi dengan kumpulan jumlah yang banyak. Kita lihat lidi yang terkumpul dalam satu ikatan menjadi sebuah sapu, ketika ikatan lidi tersebut akan dipotong tentunya akan sulit.

جعلُ الشيءِ متعدِّد واحد

_"Menjadikan sesuatu yang berpencar-pencar  (jumlahnya banyak) menjadi satu."_

Seseorang bisa jadi memakai pakaian yang berbeda, ada yang menggunakan baju kotak-kotak, ada yang menggunakan baju batik, ada yang menggunakan baju bergaris, ada yang menggunakan baju berwarna putih atau merah, orange atau hijau. Begitu mereka masuk sekolah pakaian mereka sama, mereka menggunakan baju berwarna putih. Menjadikan seragam (kesatuan) yang sama di dalam berpakaian, tauhīd. 

Tauhīd juga memiliki arti al 'aqidah yaitu al i'tiqad, yaitu sesuatu yang diyakini.

Tauhīd juga memiliki persamaan lain yaitu as sunnah.

Tauhīd juga memiliki nama lain yaitu ushulul ad dīn. 

Tauhīd juga memiliki nama lain yaitu al iman.

Tauhīd juga memiliki nama lain yaitu asy syarī'ah.

Tauhīd juga memiliki nama lain yaitu al fiqhu al akbar. 

Semua nama-nama ini memiliki arti yang sama yaitu Tauhīd.

Di dalam pembahasan tersebut kita diarahkan, kita diberi panduan untuk meng-Esa-kan Allāh. 

Al Iman, ada kitāb namanya Syu'abul Iman karya Imam Al Baihaqi. 

As Sunnah, ada kitāb namanya Syarhus Sunnah, ada juga As Sunnah ibn Abī Ashim.

Asy Syarī'ah, kitāb yang membahas Tauhīd dengan judul Asy Syarī'ah. 

Sepintas orang akan memahami asy syarī'ah adalah materi fiqih, mungkin di dalamnya ada pembahasan haji, pembahasan umrah, pembahasan thaharah,  pembahasan terkait dengan muamalat masuk di dalamnya adalah jual beli, menikah, pembahasan thalaq. 

Mungkin dibenak kita kalau kita berbicara syarī'ah maka fiqih, tapi ternyata salah satu nama Tauhīd adalah Syarī'ah.

Kītab Asy Syarī'ah adalah kitab yang memiliki beberapa jilid yang dikarang oleh Imam Al Ajurriy. 

'Aqidah, ada kitāb yang memiliki judul Aqidatul Muwahhīdin, ada kitāb Aqidatul Mukmin.

I'tiqad,  Syarah Lum'atul I'tiqad,  ada juga kitāb lainnya yang terkait dengan i'tiqad. 

Imam Abū Hanifah memiliki kitāb yang berjudul Al Fiqhu Al Akbar (fiqih yang besar atau fiqih yang agung).

Ada juga penamaan tauhīd dengan sebutan Ushulul Ad Dīn atau Ushulu Ad Diyanah. Kitāb Al Ibanah An Ushul Ad Diyanah, ini juga membahas terkait dengan tauhīd. 

Terima kasih atas segala perhatiannya.

Jazākumullāh Khayran alā husni ihtimāmikum. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________