Senin, 15 Maret 2021

Kitāb At-Tauhīd🔊 Halaqah ‎07: ‏Syarat Asy-Syahadatain ‎(شروط الشهادتين) ‏Bagian Pertama ‎

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Selasa, 02 Sya'ban 1442 H/ 16 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 07:  Syarat Asy-Syahadatain (شروط الشهادتين) Bagian Pertama 

〰〰〰〰〰〰〰

*SYARAT ASY SYAHADATAIN (شروط الشهادتين ), BAGIAN PERTAMA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، أما بعد
 

Ikhwah Fīllāh rahimakumullāh kembali kita lanjutkan materi kita masih Kitāb Aqidah At Tauhīd karya Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan.

Pada halaman 53 pembahasan yang ketiga yaitu:

▪ SYARAT ASY SYAHADATAIN (شروط الشهادتين )

Dikatakan al allifu:

شروط لا إلهَ إلَّا الله: 

Syarat yang terkandung dalam makna: Lā ilāha illallāh

لابُدَّ في شهادة أنْ (لا إلهَ إلا الله) مِنْ سبعةِ شُروط

Di dalam mengucapkan atau bersaksi dengan Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) ada 7 (tujuh) syarat yang harus terpenuhi

لا تَنفَعُ قائِلَها إلا باجتماعها

Tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya, kecuali harus terpenuhi semuanya (7 syarat) secara global (keseluruhan)

و هي على سبيل الإجمال: 

Secara global 7 syarat tersebut sebagai berikut:

١ - العِلم المُنافي للجهل

⑴ Harus berdiri di atas dasar ilmu, yang menafīkan atau meniadakan (ilmu) adalah kebodohan.

٢ - اليقين المنافي للشَّك

⑵ Yakin yang meniadakan semua bentuk keraguan.

٣ - القُبُول المُنافي للرد

⑶ Menerima yang menafīkan semua bentuk penolakan

٤ - الانقيادُ المُنافي للتَّرك

⑷ Patut yang meniadakan yaitu meninggalkan

٥ - الإخلاص المُنافي للشِّرك

⑸ Ikhlas meniadakan semua bentuk kemusyrikan.

 ٦ - الصِّدقُ المُنافي للكذِب

⑹ Kejujuran itu meniadakan semua bentuk kedustaan.

٧ - المَحبَّةُ المُنافِيَةُ لِضِدِّها، وهو البَغضاء

⑺ Kecintaan itu akan meniadakan semua bentuk kebencian

وأما تفصيلها فكما يلي:

Adapun penjelasan secara rinci sebagai berikut:

الشرط الأول: العِلم أي العِلم بمعناها المُراد مِنها، وما تنفيه وما تثبته، المُنافِي للجهل بذلك، قال تعالى: { إِلا مَن شَهِدَ بالحَقّ وَهُم يَعلمون }

أي : {شهِدَ} بِـ (لا إلهَ إلا الله)، {وهم يعلمون} بِقُلوبِهِم ما شَهِدَت بهِ ألسنتهم، فلو نطق بها وهو لا يعلم معناها، لم تنفعه، لأنهُ لم يعتقد ما تدل عليه

Diantara kemuliaan tatkala kita berbicara kehidupan adalah al ilmu, maka Allāh menyebutkan di dalam Al Qur'ān. 

فألم أنه لا اله الا الله 

Ketahuilah bahwasanya tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allāh.

Maka dikatakan bahwa: العِلم adalah sesuatu hal yang mulia.

Bahkan rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan, "Sesungguh para nabi ketika mereka meninggal dunia  mereka tidak meninggalkan emas dan perak tetapi mereka meninggalkan ilmu."
 
فمن أخذه فقد أخذ بحظ وافر

"Barangsiapa yang mengambilnya dia telah mengambil bagian yang cukup."

Maka ilmu adalah suatu kemuliaan dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

إنما يخشى الله من عباده العلماء

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allāh adalah ulama."

(QS Fathir: 28)

Terkait dengan ilmu, seorang mukmin hendaknya senantiasa berthalabul ilmi. Bukankah kita tatkala berdo'a kepada Allāh selalu kita katakan:

ريى زدني العلم 

"Yā Allāh berikanlah kepada kami tambahan ilmu,"

Bahkan Nabi Dawud mewariskan kepada putranya Nabi Sulaiman berupa ilmu. Maka dikatakan:

العِلم أي العِلم بمعناها المُراد مِنها، وما تنفيه وما  تثبته

Tatkala kita berbicara ilmu artinya kita memahami arti dan maksudnya yaitu mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang harus ditetapkan dan menafīkan ketidak tahuan dengan hal tersebut.

Bukanlah Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah berfirman:

إِلا مَن شَهِدَ بالحَقّ 

"Kecuali mereka yang bersaksi dengan haq."

Maksud: بالحَقّ adalah tauhīd, yang dimaksud haq di sini adalah dengan ilmu.

Akan tetapi tatkala kita berbicara belakangan ini, banyak orang yang hanya mengatakan Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) tapi tidak mengerti artinya. Padahal Allāh menyebutkan:

 إِلا مَن شَهِدَ بالحَقّ 

"Kecuali orang-orang yang mereka bersaksi dengan haq (tauhīd) dan mereka meyakininya."

Subhanallah, menunjukkan kemuliaan orang-orang yang berilmu mengenal kalimat tauhīd 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala mengutus Mu'ādz bin Jabbal ke negeri Yaman, apakah yang dikatakan Nabi? 

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّكَ سَتَأتِي قَومًا أهْلُ كِتَابِ، فَلْيَكُن أَوَّلَ مَاتَدْ عُوْ هُمْ إِلَيهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّاالله

"Wahai Mu'ādz engkau akan mendatangi suatu kaum mereka adalah Ahlul Kitāb, maka jadikanlah hal yang pertama kali engkau ajarkan adalah Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)."

Apa lanjutan hadits berikutnya:

فَإن هُم أطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأخْبِرُ هُم أَنَّ الله قَد فَرَضَ عَلَيهِم صَدَقَةً تُؤْ خَذُ مِن أغْنِيَا ئِهِم فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِم

"Sekiranya mereka sudah melaksanakan dan mengerjakan shalat lima waktu, kemudian ajarkan kepada mereka bahwa Allāh telah menetapkan agar mereka mengeluarkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan untuk fakir miskin."

Dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

تُؤْ خَذُ مِن أغْنِيَا ئِهِم

"Yang diambil dari orang-orang kaya."

Menunjukkan bahwa amil zakat itu pada dasarnya mereka berkeliling kepada orang-orang kaya. Sekarang ini tidak, amil zakat duduk manis. Yang datang orang-orang yang akan zakat.

Ini adalah bolak balik dunia. Kenapa ya?  

Barangkali orang lupa terhadap ilmu sehingga dia tidak melakukan apa yang semestinya dikerjakan.

Dikatakan:

أي : {شهِدَ} بِـ (لا إلهَ إلا الله)، {وهم يعلمون} بِقُلوبِهِم ما شَهِدَت بهِ ألسنتهم

Yaitu pada ayat:

إِلا مَن شَهِدَ بالحَقّ وَهُم يَعلمون

Yaitu mengenal Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) dan mereka mengenal dengan hati mereka apa yang menjadi saksi mulut mereka.

فلو نطق بها وهو لا يعلم معناها، لم تنفعه، لأنهُ لم يعتقد ما تدل عليه

Sekiranya dia mengucapkan Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) sementara dia tidak tahu maknanya (hanya ikut-ikutan) maka tidak akan bermanfaat baginya karena dia tidak menyaksikan apa yang terkandung di dalam kata-kata Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).

Demikian seorang muslim makanya kita yang sudah belajar tauhīd, Alhamdulillāh, mungkin ada tetangga kita, teman kita, kawan kita, saudara kita yang belum paham tauhīd. Tidak apa-apa. Ajarkan mereka pelan-pelan.

In syā Allāh dengan kita berdakwah secara pelan-pelan sambil dido'akan. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla membuka hati mereka sehingga mereka mudah menerima kebenaran.

Demikian seorang muslim hendaknya berbuat yang terbaik untuk saudaranya. Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

خيرا الناس انفعهم للناس

"Sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan manfaat untuk saudaranya."

(HR Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruqutni)

وصلى الله على محمد وآل أله وصحبه وسلم 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________

Minggu, 14 Maret 2021

Kitāb Aqiidatut Tauhiid 🔊 Halaqah 06: Makna Rasūl

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Senin, 1 Sya'ban 1442 H / 15 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb Aqiidatut Tauhiid 
🔊 Halaqah 06:  Makna Rasūl

〰〰〰〰〰〰〰

*MAKNA RASŪL*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رب زدني علما و رْزقني فهما

Ikhwan wa akhawatiy Fīllāh rahimakumullāh,
pemirsa BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia-Nya kembali kita bisa hadir bermajelis ilmu.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhai kita semuanya.

Kita lanjutkan materi kita, membahas Kitāb Aqidah At Tauhīd karya Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan.

ومعنى الرسول : المبعوث إلى الناس كافة بالدعوة إلى الله بشيرًا ونذيرًا 

_Makna Rasul adalah orang yang diutus (المبعوث) dia adalah orang yang diutus kepada manusia secara utuh._

Menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus untuk seluruh manusia tanpa pengecuali.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي 

_"Aku diutus (diberi) oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla lima kekhususan, dan kekhususan ini tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi sebelumku."_

Salah satu yang disebutkan adalah:

كان رسول الله صلاة و سلم :
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً 
بُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كافة. أو كما قال صلا الله عليه و سلم 

_"Dahulu para nabi diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk umatnya secara khusus. Adapun aku diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk seluruh alam semesta."_

بشيرًا ونذيرًا 

_"Sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan,"_

Maka semua nabi datang dengan membawa dua hal yaitu :

⑴ Memberi kabar gembira (بشيرًا).
⑵ Memberi peringatan (نذيرًا).

قال مؤلف حفظه الله 

_Berkata penulis hafizhahullāh:_

وفي الشهادة لـه بهاتين الصفتين : نفي للإفراط والتفريط في حقه صلى الله عليه وسلم 

_Pada makna syahadat ini memiliki dua sifat:_

١ - نفي للإفراط والتفريط

_1. Nafyun yaitu peniadaan segala bentuk macam pengurangan atau sesuatu hal yang sifatnya penambahan._

Memberikan pujian secara berlebih, juga tidak boleh menyepelekan hak risalah nubuwah juga tidak boleh. 

Maka disinilah seorang muslim hendaknya memahami bahwasanya sebagai seorang mukmin dia harus paham apa yang harus dia kerjakan, apakah yang harus disikapi terhadap Nabinya shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dikatakan:

نفي للإفراط والتفريط

Meniadakan semua bentuk hal-hal yang ada memberikan pujian kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam secara berlebih atau memberikan pengurangan yang semestinya diberikan pada hak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Dikatakan:

فإن كثيرا ممن يدعي أنه من أمته أفرط في حقه ، وغلا فيه ؛ 

_Karena sesungguhnya banyak kita jumpai orang-orang yang mengaku dia adalah umat Muhammad ternyata memiliki sikap yang berlebihan bahkan melampaui batas._

Dikatakan, 

حتى رفعه فوق مرتبة العبودية

_Bahkan memberikan sanjungan yang luar biasa._

Subhanallah, maka disini seorang mukmin hendaknya memahami bahwasanya dia adalah umat Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. Tatkala dia memahami bahwa dia adalah umat Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka dia akan memberikan yang terbaik untuk Nabi kita dan tidak memberikan pujian yang berlebih.

Dikatakan:

حتى رفعه فوق مرتبة العبودية

_Bahkan kita jumpai sebagian orang di dalam memberikan pujian kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melebihi martabat penyembahan yang semestinya._

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam datang membawa petunjuk, mengarahkan manusia, bagaimana manusia beribadah. Maka kita  harus mengikuti petunjuk Nabi. 

Tapi sebagian orang melakukan perkara ghuluw sehingga sebagian orang yang seharusnya beribadah kepada Allāh justru dia beribadah kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Dikatakan, mereka bahkan meyakini bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mampu untuk memberikan pertolongan-pertolongan yang sifatnya adalah haknya Allāh. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak ada haknya disitu.

فاستغاث به من دون الله

_Maka dia memohon pertolongan kepada selain Allah (yaitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.)_ 

Suatu saat, pada tahun 1999 atau 2000 yang lewat, sekitar 20 tahun yang lalu, di musim haji, ada istilah tau'iyah. Yaitu kegiatan yang diselenggarakan oleh para ulama di Mekkah, Yayasan: الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر

Pernah juga diantara yang direktrut untuk selama musim haji itu adalah orang Indonesia seorang: طا لبة الجامعة (mahasiswa). Sehingga suatu saat, yang namanya pembagian tugas. Ada yang ditaruh di baqi' (kuburan) para shahabat. Ada yang ditaruh di Uhud, sebagian mahasiswa. Ada sebagian mahasiswa ada yang di Kuba (masjid Kuba). Ada juga yang ditugaskan di masjid Qiblatain, ada juga yang ditugaskan di kuburan Nabi. 

Sehingga yang namanya kuburan Nabi selalu dijaga. Penjaganya orang-orang arab. Jika yang menjaga adalah orang-orang Indonesia ataukah manapun maka mereka akan diberi kewajiban memakai syimat (tutup kepala/sorban). Dan biasanya ucapan yang diucapkan adalah "haram", kalau disitu ada hal-hal yang tidak boleh. Mamnu', laijuz itu artinya adalah tidak boleh. 

Sampai suatu saat ada salah satu jamaah haji Indonesia akan meraih kuburan Nabi kemudian penjaganya mengatakan, "Haram (tidak boleh)." 

Tapi kemudian apa yang dia lakukan? Mahasiswa ini mengatakan, "Pak tidak boleh pak," dia keceplosan menggunakan bahasa Indonesia sehingga ketahuan orang Indonesia. 

Kemudian jamaah haji ini mengatakan, "Sama-sama orang Indonesia saja kenapa tidak boleh?" 

"Ini tidak boleh disentuh, nanti biar tidak terjadi kesalahpahaman. Kuburan Rasul adalah terhormat maka kita tidak boleh memberikan hal-hal yang tidak pantas dikerjakan."

Akhirnya jama'ah haji tersebut mengambil amplop, menaruh uang di dalamnya (amplopnya sudah disiapkan uang) kemudian dilemparkan ke arah kuburan, "Ini untuk Rasūl shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Oleh teman kami diambil kemudian diberikan kepada pengurus masjid Nabawi. Mungkin anggapannya Rasūl shallallāhu 'alayhi wa sallam masih membutuhkan sesuatu hal yang menjadi kebutuhan manusia, Tidak!!

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang terhormat tapi jangan sampai kita memberikan sesuatu hal yang berlebihan. Dimana kadang seseorang melakukan ghuluw (berlebihan). 

فاستغاث به من دون الله ، وطلب منه ما لا يقدر عليه إلا الله ؛ من قضاء الحاجات وتفريج الكربات

Bahkan meminta sesuatu yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sendiri tidak mampu untuk memberikan, kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

من قضاء الحاجات

_Dari permintaan-permintaan yang hendak ia raih._


Seperti tadi contohnya dia ingin meminta sesuatu kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan cara memberikan amplop kepada Rasūlullāh. Ini adalah sesuatu yang didasari oleh jahl (ketidak tahuan).

وتفريج الكربات

Bahkan sebagian orang memohon kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Misalnya (mungkin) anaknya sakit, anaknya hendak ujian, anaknya ingin masuk menjadi pegawai negeri dan lainnya. Sehingga dia melakukan sesuatu hal yang tidak berdasar di atas dasar agama.

والبعض الآخر جحد رسالته أو فرط في متابعته واعتمد على الآراء والأقوال المخالفة لما جاء به ؛ وتعسَّفَ في تأويل أخباره وأحكامه

Akan tetapi ada sebagian orang yang mengingkari kerasulan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam atau mengurangi haknya (shallallāhu 'alayhi wa sallam). Sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya.

Seorang mukmin tidak boleh menyakiti Nabi. Jika seseorang menganggap bahwasanya di sana ada ajaran yang belum tersampaikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berarti dia menganggap Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam khianat di dalam risalah nubuwah.

Jika seseorang menganggap bahwasanya di sana ada ajaran yang belum tersampaikan maka ketahuilah bahwa orang tersebut telah menuduh bahwasannya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam khianat di dalam risalah nubuwah, kanapa? 

Karena sebagian materi tidak tersampaikan, sehingga dia mengambil pemikiran-pemikiran orang-orang yang dianggap lebih mulia, lebih bagus dibanding Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Bahkan dikatakan:

واعتمد على الآراء والأقوال

_Bahkan sebagian bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyelisihi ajaran Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam._

وتعسَّفَ في تأويل أخباره وأحكامه

Bahkan memaksa bagaimana caranya melakukan sesuatu hal yang tidak pantas dilakukan, memaksakan pendapatnya sehingga mentakwil hadīts-hadīts, mentakwil hukum-hukum yang bukan semestinya.

نسأل الله العافية
نسأل الله السلامة 

Seorang mukmin tetap hormat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah wafat.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ

_"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh........."_

(QS. Āli Imrān :144)

Penjelasan dari Allāh bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau wafat

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah berkata:

يا فاطمة بنت محمد : شالين ماشعة 

_"Wahai Fatimah bintu Muhammad mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan."_

يا شوفية بنت أبد المطلب 

_"Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthālib, mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan."_

Subhānallāh, menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam selama di dunia, Beliau mampu untuk memberi.

Beliau mengatakan:

لا عغن من الشيء 

_"Ingat suatu saat nanti aku tidak akan bermanfaat untuk kalian."_

Menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah: بشيرًا . Dengan wafatnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam maka selesaikan risalah an nubuwah.

Berdo'a harus kita bedakan:

⑴ Berdo'a untuk Nabi 
⑵ Berdo'a kepada Nabi 

Kalau kita berdo'a untuk Nabi maka kita datang ke kuburan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengucapkan salam:

السلم عليك يا رسول الله و الرحمة الله و البركة

Membaca shalawat:

اللهم صلا على محمد و على عليه محمد 

 Sampai terakhir:

إنك حميد مجيد 

Atau:

في على منك حميد مجيد
  
Dianjurkan tetapi jika seseorang berdo'a kepada Nabi maka ini tidak boleh, kenapa?  karena dia meminta kepada Nabi.

Di zaman Umar bin Khaththāb pernah terjadi kekeringan yang panjang kemudian Umar bin Khaththāb mengumpulkan para shahabat. Umar bin Khaththāb mengatakan: 
 
كن نتاو اسأل بن نبي

"Ya Allah, Dahulu waktu Nabi Mu masih hidup maka kami memohon kepada Nabi kami agar Beliau berdo'a agar diturunkan hujan, kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a kepada Allāh kemudian turunlah hujan.

Sekarang Nabi kami sudah wafat maka kami bertawashul kepada Abbās paman Nabi-Mu."

كم يا عابس

 "Wahai Abbās, berdirilah dan berdo'alah."

Subhānallāh, Umar bin Khaththāb memerintahkan kepada Abbās, paman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, agar beliau berdo'a. Kemudian Abbās berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kemudian Allāh menurunkan hujan.

Cerdasnya Umar bin Khaththāb.  


Jika berdo'a kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diperbolehkan niscaya Umar akan melakukannya. Umar akan berdo'a kepada Rasūlullāh dan minta diturunkannya hujan. Namun Umar bin Khaththāb sangat memahami tauhīd sehingga beliau meminta Abbās untuk berdo'a kepada Allāh dan turunlah hujan.

وصلى الله على محمد وآل أله وصحبه وسلم 

____________________

Jumat, 12 Maret 2021

Kitab At-Tauhid🔊 Halaqah 05: Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah(Bagian I) - Allah Sang Pencipta Dia lah Yang Berhak Disembah

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Jum'at, 28 Rajab 1442 H / 12 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 05: Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah
(Bagian I) - Allah Sang Pencipta Dia lah Yang Berhak Disembah

〰〰〰〰〰〰〰

*ALLAH SANG PENCIPTA DIA LAH YANG BERHAK DISEMBAH*


بسم الله الرحمن الرحيم 
 الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول و لا قوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ ارْزُقْنيِ فَهْماً , قال الله في الكتاب الكريم : وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ، وأحيكم تحية الإسلام تحية أهل السنة و الجماعة 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sahabat BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan. Kembali kita sama-sama thalabul 'ilm, kita akan membahas Kitāb Aqidah At Tauhīd karya Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ۞ إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allāh yang menciptakanku."

(QS. Az Zukhruf: 26-27)

Abū Al Anbiyā adalah Ibrahim 'alayhissallām. Jika kita mengenal ucapan Abu Al Basyar (bapaknya manusia) maka Adam 'alayhissallām adalah orangnya.

Nabi Ibrahim pernah berkata kepada kaumnya: 

إِنَّنِي ببَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ

"Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah."

Di dalam Islām ada istilah:  الولاء والبراء , atau: الموالاة والمعادة.

Jadi: الموالاة adalah: المحبة atau: الولاء , cinta dan sayang atau kasih, menyenangi, condong untuk membela. 

Adapun: البراء , memiliki arti berlepas diri yang dikenal dengan: المعادة, kepada siapa dia harus melawan.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam suatu saat pernah berkata: 

 إنني بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ

"Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah."

Beliau menetapkan sesuatu yang luar biasa, beliau menetapkan: البراء , memusuhi, benci, tidak suka, menjauhkan dari sesembahan yang selama ini disembah oleh kaumnya.

Kemudian beliau memberikan penetapan: 
 
إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي

“Kecuali (kamu menyembah) Allāh yang menciptakanku."

Nabi Ibrahim mengatakan: إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي , karena yang menciptakan maka dia lah yang berhak untuk disembah.

إنَّني بَرَاءٌ، هو معنى النفي في الركن الأول

Ini adalah penetapan yang harus kita ketahui bersama bahwasanya: إنَّني بَرَاءٌ adalah makna dari: النفي , yaitu meniadakan rukun awal dari kata Lā ilāha.

Dan kata illallāh (إلَّا اللَّهُ) terdapat pada potongan ayat:

إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي

“Kecuali (kamu menyembah) Allāh yang menciptakanku."

إلا الذي فطرني  هو معنى الإثبات في الركن الثاني

Ayat ini adalah isbāt dari rukun yang kedua illallāh (إلَّا اللَّهُ).

Betapa kuat aqidah Nabi Ibrahim alayhissallām. Beliau adalah nabi yang sangat santun. Tiga hal yang pernah dilakukan oleh beliau 'alayhissallām yaitu:

⑴ Beliau adalah orang yang pertama kali menggunakan celana.
⑵ Beliau adalah orang yang pertama kali memuliakan tamu.
⑶ Beliau adalah orang yang pertama kali khitan.

Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts riwayat Bukhāri: 

وَكان ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً

"Usia Nabi Ibrahim kala itu adalah 80 tahun."

وكان بِالْقَدُّومِ

"Dan beliau dikhitan dengan menggunakan kampak."

Nabi Ibrahim adalah khalilurahman.

Berikutnya kita akan membahas yaitu:

 أركان شهادة أن محمدًا رسول الله : 

Rukun syahadat bahwasannya Muhammad adalah Rasulnya Allah

لها ركنان هما قولنا : عبده ورسوله ، وهما ينفيان الإفراطَ والتفريط في حقه صلى الله عليه وسلم فهو عبده ورسوله ، وهو أكمل الخلق في هاتين الصفتين الشريفتين

Rukun yang harus terpenuhi pada syahadat: محمدًا رسول الله , yaitu ucapan atau kata: عبده ورسوله (dia adalah hamba Nya Allāh dan utusan-Nya).

وهما ينفيان الإفراطَ والتفريط

(Dan seseorang mengucapkan keduanya: عبده ورسوله ,) maka ini meniadakan dua hal yang harus kita perhatikan yaitu: الإفراطَ (berlebih di dalam menyanjung) dan: التفريط (menyepelekan).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak boleh kita sanjung secara berlebihan sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam: 

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ  وَلاَ فَخْرَ 

"Aku adalah anak cucu Adam dan aku tidak membanggakan diri."

Orang yang terbaik di dunia ini dari zaman Adam sampai hari kiamat, adalah Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Maka Beliau adalah: عبد الله . Hamba di nisbatkan kepada sesuatu yang mulia maka jadilah mulia. Beliau adalah: عبده ورسوله.

Disebutkan di dalam sejarah bahwasanya sesunggunya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memilih keturunan dari Ismail ibnu Ibrahim yang bernama Kinanah. Keturunan yang terbaik dari Ismail ibnu Ibrahim adalah Adnan, dari Adnan muncul keturunan yang terbaik yaitu Kinanah. Dari Kinanah muncul keturunan yang terbaik yaitu Quraisy, dari Quraisy muncul keturunan yang terbaik yaitu Bani Hasyim, dari Bani Hasyim muncul keturunan yang terbaik. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

 Allāh Subhānahu wa Ta'āla memilihku dari keturunan Bani Hasyim.

Menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang pilihan.

Tidak boleh seseorang menghina, tidak boleh seseorang tidak menempatkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pada tempatnya, sehingga Beliau direndahkan yang dikenal dengan:  والتفريط. 

Orang-orang Yahudi berbeda dengan orang-orang Nashrani. Orang kristiani menjadikan Nabi Isa alayhissallām sebagai anak tuhan.

 لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ

Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allāh itu dialah Al Masih putra Maryam.”

(QS. Al Māidah: 72)

Mereka menetapkan bahwa Allāh adalah Isa ibnu Maryam maka dia kufur, karena menjadikan Nabi Isa sejajar dengan tuhan atau anak tuhan. 

Padahal Allāh telah berfirman: 

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan."

(QS. Al Ikhlās: 3)

Bagaimanakah orang-orang Yahudi? 

Mereka menyepelakan n
Nabi Isa alayhissallām. 

Mereka mengatakan bahwasanya Nabi Isa adalah anak pelacur. Bahkan mereka lah yang berusaha untuk membunuh Nabiyullāh Isa. Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta'āla selamatkan Nabi Isa alayhissallām. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla katakan di dalam Al Qur'ān, "Allāh murka terhadap bani isrāil (orang-orang Yahudi)."

Kenapa Allāh murka terhadap orang-orang Yahudi? 

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا

Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allāh," padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

(QS. An Nissā: 157)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla murka, melaknat orang-orang Yahudi dimana mereka berkata: "Kami telah berhasil membunuh Isa ibnu Maryam (rasul Allāh)."

Kemudian Allāh membantah:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ 

Allāh tidak diam, Allāh Subhānahu wa Ta'āla membela Rasul-Nya, sebagaimana firman Allāh:

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ ٱلْأَشْهَـٰدُ

"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)."

(QS. Ghāfir: 51)

Nabi Isa alayhissallām dibela oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Allāh memberikan pernyataan:

 وَمَا قَتَلُوهُ  

"Mereka orang-orang Yahudi sama sekali tidak membunuh Nabi Isa."

وَمَا صَلَبُوهُ 

"Mereka juga tidak menyalib nabi Isa alayhissallām."

وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ

_"Akan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyerupakan Nabi Isa alayhissallām dengan salah satu di antara siswa Nabi Isa alayhissallām."

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ

"Sesungguhnya mereka orang-orang yang mengatakan bahwasanya kami telah berhasil membunuh nabi Isa, mereka dalam keadaan penuh keraguan."

مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ

"Mereka melakukan tidak berdasarkan ilmu, kecuali hanya praduga dan prasangka."

وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا

"Mereka (orang-orang Yahudi) tidak merasa yakin telah membunuh Nabiyullāh Isa alayhissallām."

بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ

"Tetapi Allāh telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(QS. An Nissā: 158)

Maka dikatakan: 

فهو عبده ورسوله

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah hamba dan juga Rasul-Nya.

وهو أكمل الخلق في هاتين الصفتين الشريفتين

Dan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah makhluk yang paling sempurna, Beliau memiliki dua sifat yang sangat mulia.

ومعنى العبد هنا : المملوك العابد

Dan makna: العبد , adalah: المملوك العابد , yaitu hamba sahaya tetapi dia tidak sekedar hamba, melainkan hamba-Nya Allāh.

Sebagaimana Allāh memberikan kemuliaan di awal surat Al Isrā.

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِ

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad)."

(QS. Al Isra': 1)

Maka di sini idhafah at tasyrif,  penyandaran kepada yang mulia jadilah mulia.

أي : أنه بشرٌ مخلوق مما خلق منه البشر 

Beliau adalah بشرٌ makhluk, manusia biasa sebagaimana manusia lain yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan.

Berlaku untuk rasul berlaku juga untuk manusia bias, sebagaimana firman Allāh: 

قُلْ إنَّما أنَا بشرٌ مِّثْلُكُمْ

"Katakanlah wahai Muhammad aku adalah manusia seperti kalian."

(QS. Al Kahfi : 110) 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah manusia biasa. Beliau berjalan keluar masuk pasar, makan makanan. Nabi Isa pun demikian, beliau adalah manusia biasa. Begitu seseorang berbicara seseorang itu makan maka dia akan membutuhkan toilet. Sehingga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun mengajarkan umatnya adab ketika masuk atau keluar toilet. 

Menunjukkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah: بشرٌ. 

Inilah hikmah besar kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam manusia. Karena kalau Beliau adalah dari kalangan malaikat niscaya umat akan berkata, "Oh, iya panjenengankan malaikat tidak makan dan tidak minum." Tetapi begitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari manusia dan Beliau bisa melakukan  seperti itu, lalu kenapa kita tidak bisa? 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki keturunan. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bangun malam.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam banyak melakukan ketaatan, maka kita pun bisa melakukan, mengikuti apa yang menjadi petunjuk Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

وقد وفى صلى الله عليه وسلم العبودية حقها ، ومدحه الله بذلك  

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menunaikan apa yang menjadi kewajiban hamba kepada Allāh bahkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pun memujinya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla: 

ألَيْسَ اللهُ بِكافٍ عبدَهُ

"Bukankah Allāh yang mencukupi hamba-Nya?"

(QS. Az Zumar: 36)

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ ٱلۡكِتَٰبَ

"Segala puji bagi Allāh yang telah menurunkan Kitāb (Al Qur'ān) kepada hamba-Nya."

(QS. Al Kahf:1) 

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ 

"Mahasuci (Allāh), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami."

(QS. Al Isra': 1)

ومعنى الرسول : المبعوث إلى الناس كافة بالدعوة إلى الله بشيرًا ونذيرًا 

Adapun makna: الرسول adalah orang yang diutus kepada seluruh manusia dan dia memiliki kewajiban untuk berdakwah kepada Allāh dan memberikan kabar gembira juga peringatan.

Sebagaimana firman Allāh:

 كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

"Manusia itu adalah umat yang وَٰحِدَةًۭ (bertauhīd) maka Allāh mengutus para nabi,  sebagai pemberi peringatan."

(QS. Al Baqarah: 213) 

نكتفي بهذا القدر

In syā Allāh lain waktu kita lanjutkan.

سبحانك اللهم و بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته 
________

Rabu, 10 Maret 2021

Kitāb Aqiidatut Tauhiid 🔊 Halaqah 04: Rukun Syahadat Laa Ilaha Illallah

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Kamis, 27 Rajab 1442 H / 11 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb Aqiidatut Tauhiid 
🔊 Halaqah 04: Rukun Syahadat Laa Ilaha Illallah

〰〰〰〰〰〰〰

*RUKUN SYAHADAT LAA ILAHA ILLALLAH*


بسم الله الرحمن الرحيم 
 الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً , قال الله في كتاب الكريم : وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ، وحيكم تحية الإسلام تحية اهل السنة و الجماعة 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Sahabat BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan. 

Kembali kita sama-sama thalabul 'ilm, kita akan membahas Kitāb Aqidah At Tauhīd karya Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan. 

ثانيًا: أركان الشهادتين:

_Pembahasan yang kedua adalah rukun-rukun dua kalimat syahadat._

Arkān (أركان) adalah jamak, mufradnya adalah rikun ( ركن).

Rukun yang harus terpenuhi pada dua kalimat syahadat:

أ - لا إله إلا الله: لها ركنان هما: النفي والإثبات:

_⑴ Kalimat Lā ilāha illallāh keduanya memiliki dua rukun yang harus terpenuhi, al nafyu dan al itsbātu._

Rukun adalah pokok. Jika seseorang berbicara rukun wudhu, maka rukun wudhu ada empat
Yaitu membasuh muka, membasuh kedua tangan, mengusap kepala dan membasuh kedua kaki. Jika salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi maka wudhu seseorang tidak sah.

Di dalam ilmu tauhīd terkadang ada pembahasan yang dilalaikan oleh banyak orang yaitu kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ). 

Kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) memiliki dua rukun, yaitu :

⑴ Al nafyu (النفي)
⑵ Al itsbātu (الإثباتُ)

فالركن الأول: النفي: لا إله: 

_Rukun pertama adalah an nafi'_

An nafi' artinya peniadaan, pengosongan, sesuatu hal yang harus tidak ada. 

Maka dikatakan: لَا إلَهَ . Lā (لا) artinya tidak dan Ilāha (إلَهَ) artinya Tuhan.

Lā ilāha (لَا إلَهَ) artinya Tidak ada Tuhan.

لا إله: يُبطل الشرك بجميع أنواعه ويُوجب الكُفرَ بكل ما يعبد من دون الله

_Lā ilāha (لَا إلَهَ ) adalah membatalkan semua bentuk kemusyirikan dengan berbagai macam cabang dan macamnya dan mewajibkan untuk kufur atau menutup kepada semua hal yang disembah kecuali Allāh._

Al kufru (الكُفرَ) artinya menutup maka di katakan cover, kalau kita berbicara buku biasanya ada covernya atau penutupnya.

Menunjukkan peniadaan berbagai macam peribadatan yang ada, peniadaan semua bentuk ketuhanan yang ada. Itu adalah arti an nafī, dari kata Lā ilāha (لَا إلَهَ).

والركن الثاني: الإثباتُ: إلا الله: يثبت أنه لا يستحق العبادة إلا الله

_Rukun kedua adalah al itsbātu (الإثباتُ) bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allāh._

Yaitu penetapan. Begitu pun di dalam kehidupan, jika ada peniadaan maka akan ada penetapan.

Apakah penisbatan tersebut? Yaitu kata "illallāh  (إلَّا اللَّهُ)" 

√ Lā ilāha adalah nafī. 
√ Illallāh adalah itsbāt. 

Al itsbāt adalah penetapan bahwasanya tidak ada yang berhak.

Yutsbit (يثبت),  menetapkan,
Anahu (أنه), bahwasanya,
Lā yastahiqu (لا يستحق), sama sekali tidak ada yang berhak.

Yastahiqu (يستحق) hanya dia yang berhak.

Kita mengenal zakat fitri, kita harus memberikan kepada mustahiq ( مستحق ) nya yaitu orang fakir dan orang miskin. 

Seseorang berbicara zakat maal, kita harus berbicara siapakah yang paling berhak, maka ada istilah مستحق . Jangan sampai kita memberikan harta zakat kepada orang yang bukan مستحق (yang paling berhak).

أنه لا يستحق العبادة إلا الله

_"Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allāh "_

Menunjukkan yang namanya peribadatan itu hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

ويُوجب العمل بذلك

_Dan mewajibkan untuk beramal denganya._

Yūjib (يُوجب), mewajibkan 

وقد جاء معنى هذين الركنين في كثير من الآيات

_Dan telah datang penjelasan dua rukun ini dibanyak tempat di dalam Al Qur'ān._

Contohnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla: 

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ

_"Barangsiapa ingkar kepada thāghut dan beriman kepada Allāh, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus."_

(QS. Al Baqarah: 256) 

Para ulama memberikan beberapa pernyataan yang berkaitan dengan thāghut, di antaranya adalah:

 كل ما عبد من دون الله 

_Segala sesuatu yang disembah selain Allāh._

Sebagian ulama memberikan pernyataan:

 كهان تنجل اليهم ان شياطين , 

_Para dukun yang didatangi para syaithan._ 

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ

_"Barangsiapa ingkar kepada thāghut,"_ 

Menunjukkan semua yang disembah selain Allāh harus kita tutup, harus kita tinggalkan, harus ditiadakan. 

Setelah dia menutup matanya terkait dengan semua yang disembah, maka kewajiban selanjutnya adalah:

 وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ 

_Dia beriman kepada Allāh._

Māsyā Allāh, tidak ada kata-kata yang indah melebihi seseorang berkata, "Aku beriman kepada Allāh."

Allāh memberikan pujian kepada mereka orang-orang yang berkata:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

_Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allāh kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu."_

(QS. Fussilat: 30)

Perhatikan! Bagaimanakah Allāh memberikan pujian kepada mereka, orang-orang yang berkata:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ

_"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allāh."_

فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ

_"Sungguh dia telah berpegang (teguh) dengan tali yang sangat kokoh (kuat) yang tidak akan putus."_

Jika kita gali lebih dalam firman Allāh:

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ

Maka di sini ada dua komponen yang harus kita pahami dengan baik yaitu:

 فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ

_Dan barangsiapa kufur terhadap thāghut._

Ini adalah kalimat an nafī yang merupakan rukun awal Lā ilāha, ini adalah peniadaan.

وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ

_Dan beriman kepada Allāh._

Dan ini adalah rukun  yang kedua yaitu illallāh yaitu penetapan.

Seorang mukmin beriman kepada Allāh adalah nikmat, kenapa orang yang beriman kepada Allāh sangat nikmat? 

Karena dia akan senantiasa berada di bawah pengawasan dari Allāh jika dia menjaga apa yang menjadi ketentuan Allāh. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

احفظ الله يحفظك 

_"Jagalah Allāh niscaya Allāh akan menjagamu."_

Yang penting kita sebagai seorang muslim memiliki kewajiban untuk menjaga apa yang telah menjadi ketentuan Allāh dan niscaya Allāh akan menjaga kita.

احفظ الله تجده تجاهك

_"Jika engkau menjaga Allāh, niscaya engkau akan dapatkan Allāh ada di depanmu._

Menunjukkan kehidupan seorang mukmin, dia akan hidup dengan yang terbaik, karena dia beriman kepada Allāh.

Ketika seseorang mengenal tuhan dengan baik maka hidupnyapun akan baik. Tidak mengganggu orang lain, tidak mengambil haknya orang lain. Karena dia berada di bawah pengawasan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Rezekinya tidak akan tertukar, karena dia berada di bawah pengawasan Allāh. Makanan dan minuman yang telah dia konsumsi adalah rezeki yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetapkan. Dan ini adalah kata-kata dari rukun yang kedua illallāh.

 إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ۞ إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي

_“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allāh yang menciptakanku."_

(QS. Az Zukhruf: 26-27)

نكتفي بهذا القدر

وصلى الله على محمد وآل أله وصحبه وسلم 
____________________

Kitāb Aqiidatut Tauhiid 🔊 Halaqah 03: Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Rabu, 26 Rajab 1442 H / 10 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb Aqiidatut Tauhiid 
🔊 Halaqah 03: Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

〰〰〰〰〰〰〰

*MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD RASULULLAH*

بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ علما وَ ارْزُقْنيِ فهما

قال الله تعالى في الكتاب الكريم : «وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون» وأحيكم تحية الإسلام تحية السنه و الجماعة
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sahabat BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan. Kembali kita sama-sama thalabul ilmi, kita akan membahas yaitu Kitāb Aqidah At-Tauhīd karya Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan.

قال معالف رحمه الله

_Berkata muallif rahimahullāh:_

ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله‏:‏ هو الاعتراف باطنًا وظاهرًا أنه عبد الله ورسوله إلى الناس كافة، والعمل بمقتضى ذلك من طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما نهى عنه وزجر، وألا يُعبدَ الله إلا بما شرع‏.‏

ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله‏:‏ 

Adapun arti syahadah pada pembahasan yang lewat telah kita sampaikan kalimatu tauhid yaitu

شهدة أن لا إله إلا الله وأن محمدا ورسوله. 

_Pembahasan kita adalah pembahasan persaksian bahwasanya Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Rasūlullāh._ 

Tentunya salah satu yang perlu kita ketahui bersama bahwasanya di dunia Arab, diwaktu Rasūlullāh shallallātu wa sallam beliau lahir maka ada lima atau enam orang semuanya memiliki nama Muhammad, masing-masing dari mereka berharap dia akan menjadi rasul. 

Menjadi bagian kenapa Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan apa yang ada di alam semesta ini, karena sesungguhnya Rasūlullāh shallallātu wa sallam adalah orang terbaik.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أنا سيدُ ولدِ آدمَ ولا فخر

_"Aku adalah anak keturunan Adam 'alaihissalam yang terbaik dan aku tidak membanggakan diri."_

Perhatikan! Bagaimanakah ternyata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang top, manusia menyakini, jin menyakini, semuanya meyakini bahwasanya Muhammad 'alayhi shallallātu
wa sallam adalah orang top. Bahkan orang-orang kuffar pun meyakini bahwasanya Nabi kita adalah orang top.

ومعنى شهادة أن محمدًا

_"Dan seseorang meyakini bahwasanya Muhammad adalah Rasūlullāh"_

Perhatikan ucapan pada ucapan Rasūlullāh!

Rasul adalah utusan, sesuatu yang biasa tatkala dinisbatkan kepada yang mulia maka jadilah mulia. 

Baitun (بيت) artinya rumah, ketika dinisbatkan kepada yang mulia jadilah mulia (بيت الله) rumahnya Allāh. 

Nāqatun (نَاقَة) artinya unta, ناقة الله artinya untanya Allāh,  jadilah mulia, menisbatkan sesuatu yang biasa ketika dinisbatkan kepada yang mulia maka jadilah mulia.

Abdun (عبد) hamba عبد الله (hambanya Allāh).

Kita mengenal salah satu yang melekat pada gelar raja Saudi, khadimu (خدم) pelayan, الحرامين pelayannya. الحرامين dua tanah suci. خدم الحرامين, khadim خدم itu pelayanan. Dinisbatkan kepada sesuatu mulia jadilah mulia. خدم الحرامين pelayanannya dua kota tanah suci. Subhanallah, jadi penisbatan sesuatu kepada yang mulia itu menjadi mulia.

Maka dikatakan Muhammad itu siapa? (رسول) utusan, tapi disini Allah, Rasūlullāh utusannya Allah, menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang terbaik, kenapa? karena Beliau adalah utusannya Allāh. 

Apakah yang menjadi kewajiban seorang muslim tatkala berbicara tentang شهادة أن محمدًا رسول الله‏ maka الاعتراف (mengakui). Subhanallah, Tidak ada sesuatu hal yang mulia melebihi seseorang tatkala kita berbicara pengakuan.

Mohon maaf jika kita sedikit bergeser pada masalah persaksian, ketika seseorang ingin dijadikan saksi di depan hukum maka di sana ada istilah yang namanya persaksian. 

Orang itu menyaksikan...melihat.
Orang itu menyaksikan...mendengar. 

Kok tidak melihat, juga tidak mendengar, maka bisa seseorang itu i'tirāf (memberikan suatu pernyataan atau pengakuan).

Seorang muslim begitu dia hidup hendaknya dia memahami bahwasanya ada kewajiban i'tirāf (mengakui)  (باطن و ظاهر) secara bathin ataukah zhahir, secara nampak ataukah tersembunyi.

Pengakuan terkait apa? 

أنه عبد الله و رسوله 

_Bahwasanya Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah hamba Nya Allāh,  sekaligus rasul Nya Allāh._

Al-I'tiraf (الاعتراف) suatu keyakinan yang menghujam pada sanubari seseorang, mengakui, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwasanya Rasūlullāh shallallātu wa sallam adalah hamba Allāh dan Rasul Allāh. 

Rasūlullāh shallallātu wa sallam suatu saat pernah berkata kepada sahabatnya, Beliau shallallātu wa sallam pernah memberikan nasehat kepada para sahabat dan nasehat tersebut juga berlaku untuk kita semua.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

_"Wahai sahabatku, janganlah kalian mengkultuskan aku secara berlebihan  sebagaimana orang-orang nashrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam"_

Kita diperintahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk menjadi umat أُمَّةً وَسَطاً (umat yang pertengahan), tidak ifrad tidak tafrid, tidak berlebihan juga tidak menggampangkan atau menyepelekan.

Orang Yahudi mereka berlaku buruk terhadap nabiyullāh Isa alayhissallām. Apakah yang diyakini oleh orang-orang Yahudi? Sungguh orang-orang Yahudi memberikan perlakuan terhadap nabi Isa alayhissallām dengan perlakuan yang buruk. 

Sehingga tatkala mereka (orang-orang Yahudi) berjumpa dengan nabiyullāh Isa dan waktu itu nabi Isa digendong oleh ibunya (nabi Isa masih kecil) Maryam sebagai orang tua (ibu) dari nabi Isa mendapatkan suatu perlakuan buruk.

Mereka mengatakan:

 يَـٰٓأُخْتَ هَـٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمْرَأَ سَوْءٍۢ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّۭا

_"Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina"_ (QS. Maryam: 28)

Apa yang dilakukan oleh Maryam? Maryam memberikan isyarat, waktu itu nabi isa digendong oleh Maryam, dan 

فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ

_Kalau kalian mau mengajak bicara, bicaralah sama anak ini (nabi Isa) karena Maryam waktu itu dia bernadzar kepada Allāh untuk tidak mengajak bicara siapapun._

إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْمًۭا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّۭا

 _"Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini"_ (QS. Maryam: 26) 

Sehingga Maryam mengatakan:

فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ قَالُواْ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا

_Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”_ (QS. Maryam: 29)

Maka serta merta itu nabi Isa alayhissallām langsung berkata: 

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ 

Dia (Isa) berkata, _"Sesungguhnya aku hamba Allāh."_

Orang-orang bani Israil mereka mengatakan bahwasanya nabi Isa adalah anak pelacur,  orang-orang nashrani memberikan perlakuan berlebih kepada nabi Isa, mereka mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan. Akan tetapi pernyataan itu dibantah oleh perkataan nabi Isa itu sendiri, seandainya nabi Isa adalah Tuhan niscaya dia akan berkata di depan orang-orang Yahudi dengan mengatakan إِنِّي أنا ٱللَّهِ - aku adalah Allāh bukan mengatakan  إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ - aku adalah hamba Nya Allāh. 

Begitu juga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan ketika Beliau bersabda: 

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

_"Janganlah kalian mengkultuskan aku secara berlebihan sebagaimana orang-orang nashrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam."_

فَقُولوا : عبد الله و رسوله

_"Maka hendaklah kalian berkata bahwasanya aku adalah hamba Allāh dan rasul-Nya."_

Begitu juga nabi Isa beliau adalah hamba Allāh dan rasul-Nya. 

إلى الناس كافة

_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk seluruh alam semesta kepada semua manusia._

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

_"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."_ (QS. Al-Anbiyya: 107) 

والعمل بمقتضى ذلك

_Dan melakukan atau mengamalkan._

Jadi seseorang setelah i'tirāf memberikan  pengakuan bahwasanya Rasūlullāh adalah hamba Allāh dan Rasul Nya. Maka kita memahami bahwasanya rasul ini bukan orang biasa, dia diutus oleh Allāh, dia adalah orang kepercayaan, beliau adalah musthafa  (orang pilihan) untuk seluruh alam semesta 
 
ولا بمقتضى ذلك من طاعته فيما أمر

_Begitu seseorang meyakini bahwasanya Rasul adalah hamba Allāh dan Rasul Nya, maka di sana ada hal-hal yang harus menghujam pada sanubari seseorang._

Siapakah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini? 

Seorang muslim memiliki kewajiban untuk mengenal bagaimanalah sejarahnya, bagaimanakah kehidupannya, bagaimanakah tatkala beliau berperang, bagaimanakah tatkala beliau bermuamalah dengan Istrinya, bermuamalah dengan para  sahabatnya, bermuamalah sama anak-anak kecil.

والعمل بمقتضى ذلك من طاعته فيما أمر

_Maka apa yang menjadi kewajiban seorang muslim adalah mentaati, melaksanakan apa yang menjadi perintah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kita lakukan._

Dan dikatakan,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ

_Tidak pantas seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan rasulNya telah menetapkan sesuatu maka orang mukmin tidak boleh menjadikan yang lain sebagai pilihan._ (QS. Al Ahzab: 36)

وتصديقه فيما أخبر

_Melaksanakan perintahnya kita lakukan_


ولا يستحق

 _Dan membenarkan_

من طاعتة أكبر و تستحق فيما أكبر

_Membenarkan apa yang diperintahkan, semua apa yang diperintahkan nabi adalah haq mesti terjadi._

Ada hal-hal yang telah diberitakan Nabi dan sudah terjadi dan ada juga yang sudah terjadi dan terus terjadi, dan ada yang akan terjadi pun terjadi.

‌Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga dibuka  Baitul Maqdis,  terjadi.

‌Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga tersebar kebodohan, sekarangpun tersebar banyak kebodohan. 

‌Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga terjadi banyak pembunuhan, dan ini pun terjadi.

Dan masih banyak hal yang masih terus terjadi, termasuk di antaranya terjadinya gempa bumi dan ini adalah bagian dari tanda kiamat.

واجتناب ما نهى عنه وزجر

_Dan wajib untuk meninggalkan apa yang telah menjadi larangannya._

وألا يُعبدَ الله إلا بما شرع

_Dan untuk tidak menyembah Allāh, kecuali apa yang telah disyariatkan._

نكتفي بهذا القدر

Lain waktu kita sambung lagi, InsyaAllah..

وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Selasa, 09 Maret 2021

Kitāb Aqiidatut Tauhiid 🔊 Halaqah 02: Tafsir-Tafsir Yang Bathil Tentang Makna Laa Ilaha Illallah

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Selasa, 25 Rajab 1442 H / 09 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb Aqiidatut Tauhiid 
🔊 Halaqah 02: Tafsir-Tafsir Yang Bathil Tentang Makna Laa Ilaha Illallah

〰〰〰〰〰〰〰

*TAFSIR-TAFSIR YANG BATHIL TENTANG MAKNA LAA ILAHA ILLALLAH*


بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ ارْزُقْنيِ فَهْماً

قال الله تعالى في الكتاب الكريم : «وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون» وأحيكم تحية الإسلام تحية السنه و الجماعة
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sahabat BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan. Kembali kita sama-sama berthalabul ilmi, kita akan membahas yaitu Kitāb Aqidatu At-Tauhīd karya Syaikh Shahih Fauzan al-Fauzan.

Pendengar BiAS yang kami muliakan.

و قد فصسرت هذه الكلمة بتفسبرات باطلة، منها

Syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia Nya, kembali kita dikesempatan kali ini, kita bisa kembali sama-sama berthalabul ilmi, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhāinya. Masih pada pembahasan Kitāb Aqidatu At-Tauhīd karya Fadhillatu Syaikh DR. Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullāh ta'āla. 

فظلة الكتاب  العلماء. وقد فُسّرتْ هذه الكلمةُ 

_Dan telah ditafsirkan kalimat-kalimat berikut ini dengan beberapa penafsiran yang bathil, Apakah penafsiran yang bathil? maka penafsiran yang bathil di antaranya adalah,_

١- أن معناه‏ا :‏ لا معبودَ إلا الله‏، وهذا باطل، 

_Tidak ada sesembahan kecuali Allāh dan ini adalah penafsiran yang bathil._ 

Ketika seseorang menafsirkan kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) ditafsirkan dengan, _"Tidak ada sesembahan kecuali Allāh"._

لأن معناه‏:‏ أن كل معبود بحقّ أو باطل هو الله، كما سبق بيانه قريبًا‏

_Karena jika seseorang menafsirkan, "Tidak ada sesembahan kecuali Allāh", maka akan kita pahami bahwasanya sesembahan itu bisa benar dan bisa bathil. Dan dia-lah Allāh._

Maka pernyataan seperti ini sudah kita bahas pada pembahasan yang telah lewat .

٢- أن معناها‏:‏ لا خالقَ إلا الله‏.‏ وهذا جزء من معنى هذه الكلمة؛ ولكن ليس هو المقصود؛ لأنه لا يثبت إلا توحيد الربوبية، وهو لا يكفي وهو توحيد المشركين

Tidak ada pencipta (خالقَ) kecuali (إلا الله‏) Allāh. 

وهذا جزء من معنا هذه الكلمة؛ ولكن ليس هو المقصود

_Dan ini bagian daripada kalimat tersebut akan tetapi bukan itu yang menjadi harapan._

لأنه لا يثبت إلا توحيد الربوبية

_Karena jika seseorang menafsirkan penafsiran (لا خالقَ إلا الله‏) tidak ada pencipta kepada Allāh, maka di sinilah penetapan Tauhīd Rububiyyah._

وهو لا يكفي وهو توحيد المشركين

_Dan seseorang menafsirkan, "Tidak ada pencipta kecuali Allāh", maka itu tidak cukup dan ini adalah tauhīdnya orang-orang musyrikin Quraisy._

Di mana orang-orang musyrikin Quraisy tatkala mereka ditanya: 

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ

_Jika ditanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allāh"..._ (QS. Al-Ankabut: 61)

Jika seseorang menafsirkan kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) dengan kalimat (لا خالقَ إلا الله‏) maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak perlu berdakwah. Karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Mekkah, mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah pencipta.

Dalam penafsiran (لا خالقَ إلا الله‏) jika ditafsirkan (لا خالقَ) adalah _"Tidak ada pencipta kecuali Allāh"_ maka orang-orang Quraisy, mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah pencipta. 

Ternyata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tetap mengajarkan kalimat tauhīd yaitu berharap agar (orang-orang Quraisy) mereka tidak hanya menetapkan Tauhīd Rububiyyah, tidak menetapkan tauhid kecuali tauhīd Rububiyyah. Adapun menetapkan kalimat tauhīd maka mereka tidak sampai di situ. Dalam artian mereka tidak mau meyakini bahwasanya Tuhan itu hanya satu.

Maka rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala beliau berdakwah ada salah satu pemuka Quraisy yang menyakiti Rasūlullāh bahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hendak dibunuh dan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika itu dibela oleh Abū Bakar Ash-Shiddiq. 

أتتقالو رجول يقال يا ربي يا للله

_Apakah engkau akan membunuh seseorang yang mengatakan Tuhanku adalah Allāh?_

Maka disini Abū Bakar Ash-Shiddiq memahami kalimat tauhīd dengan baik dan melaksanakan. Adapun orang-orang Quraisy maka mereka meyakini kebenaran tauhīd tetapi kebenaran tersebut mereka pisah, mereka hanya menerima kalimat penetapan  tauhīd dalam hal rububiyyah saja adapun dalam perkara uluhiyyah maka orang-orang Quraisy mereka tidak menetapkan.

Maka dikatakan وهو التوحيد المشركين  karena jika seseorang mengatakan لا خالقَ إلا الله‏ maka orang-orang musyrikin pun meyakini dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita suatu pernyataan di dalam Al-Qur'ān bahwasanya orang-orang Quraisy menyakini Tauhīd Rububiyyah.

Agar lebih mudah kita pahami. 

Tauhīd Rububiyyah adalah suatu keyakinan di mana seorang hamba meyakini bahwasanya; 

• Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah pencipta. 
• Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang Maha Menghidupkan. 
• Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang Maha Mematikan.
• Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang mengatur seluruh alam semesta.
• Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang yang memberikan rezeki.
Ini Tauhīd Rububiyyah

Orang-orang Quraisy meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang menciptakan langit, dzat yang menciptakan bumi, dzat yang Maha Menghidupkan dan dzat yang Maha 
Mematikan, dzat yang memberikan rezeki dan dzat yang mengatur seluruh alam.

Maka Tauhīd Rububiyyah adalah melekat pada orang-orang Quraisy dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tetap mendakwahi mereka, kenapa? karena Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berharap orang-orang Quraisy agar paham akan Tauhīd Uluhiyyah.

Dan disinilah kita bisa menyimpulkan bahwasanya orang-orang Quraisy itu sangat paham tauhīd, tetapi mereka hanya menetapkan Tauhīd Rububiyyah semata.

Adapun Tauhid Uluhiyyah mereka tidak mau, 
kenapa? 
Karena mereka menganggap bahwasanya di sana ada Hubal, Latta, Uzza dan Manat (sesembahan-sesembahan) yang selama ini mereka agungkan.

٣- أن معناها‏:‏ لا حاكميّةَ إلا لله، وهذا أيضًا جزء من معناها، وليس هو المقصود؛ لأنه لا يكفي، لأنه لو أفرد الله بالحاكمية فقط، ودعا غير الله، أو صرف له شيئًا من العبادة ، لم يكن موحدًا. وكل هذه تفاسير باطلة أو ناقصة؛ وإنما نبهنا عليها لأنها توجد في بعض الكتب المتداولة

_"Tidak ada hakim kecuali Allāh"_
√ Tidak ada yang memberikan hukuman kecuali Allāh.
√ Tidak ada yang menetapkan kecuali Allāh. 

وهذا أيضًا جزء من معناها

_Dan inipun bagian dari makna kalimat tauhīd_

وليس هو المقصود 

_Dan itu juga bukan yang dimaksud._

لأنه لا يكفي

_Karena sesungguhnya hal tersebut tidak cukup._

لأنه لو أفرد الله بالحاكمية فقط ودعا غير الله أو صرف له شيئًا من العبادة لم يكن موحدًا

Karena sesungguhnya ketika seseorang (أفرد الله بالحاكمية) memberikan penetapan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah satu-satunya hakim. 

ودعا غير الله 

_Dan dia menyeru kepada selain Allāh_

أوصرف له شيئًا من العبادة لم يكن موحدًا

_Atau menetapkan sesuatu (walaupun hanya sedikit) dari ibadah maka belum ditetapkan orang ini muwahid (orang yang bertauhīd)._

Sudah pokoknya saya menetapkan, _"bahwasanya satu-satunya hakim itu adalah Allāh",_ dan ini pun tidak benar.

وكل هذه تفاسير باطلة أو ناقصة

_Dan penafsiran ini semua adalah tidak benar dan kurang_

وإنما نبهنا عليها لأنها توجد في بعض الكتب المتداولة

_Dan kami ingatkan bahwasanya penafsiran-penafsiran seperti ini terdapat di dalam buku-buku yang beredar di sekitar kita._

Syaikh Shalih Al-Fauzan memberikan penjelasan bahwasanya arti Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) yang benar adalah لا معبودَ بحقٍّ إلا الله sebagaimana telah ditetapkan.

والتفسيرُ الصحيح لهذه الكلمة عند السلف والمحققين‏:‏
أن يُقالَ‏:‏ ‏(‏لا معبود بحق إلا الله‏)‏ كما سبق

Jadi penafsiran لا معبودَ إلا الله - _"Tidak ada sesembahan kecuali Allāh" maka ini tidak benar._

Penasiran لا خالقَ إلا الله‏ - _"Tidak ada pencipta kecuali Allāh",_ juga kurang pas.

Penafsiran لا حاكميّةَ إلا لله - _"Tidak ada hakim (penentu atau yang memberikan hukum) kecuali Allāh",_ juga kurang pas.

Jika kita menafsirkan لا حاكميّةَ إلا لله - _"Tidak ada memberikan hukum kecuali Allāh",_ juga kurang tepat karena orang-orang musyrikin mereka pun menetapkan bahwasanya خالقَ (pencipta) dan حاكميّةَ adalah tauhīd rububiyyah. 

والتفسيرُ الصحيح لهذه الكلمة عند السلف والمحققين‏:‏

_Penafsiran yang benar menurut As-Salaf, As-Salaf adalah pendahulu sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Aisyah radhiyallāhu 'anhā:_

انا لك السلف

_"Wahai Aisyah aku adalah untuk engkau pendahulumu"_

Syaikh Abdurrahman al-Auza'i pernah berkata:

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس ، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه لك بي القول

_"Hendaknya engkau memahami dan berpegang teguh dengan apa yang ada pada Salafush Shalih sekalipun banyak orang yang meninggalkan atau menolaknya. Dan hati-hatilah kamu dengan ucapan para pembaharu yang suatu saat nanti akan muncul orang-orang yang memiliki pemikiran yang tidak pas sekalipun mereka menghiasi dengan perkataan yang indah"_

Ketahuilah, bahwasannya kalimatut tauhid, 
Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwasanya kalimat tauhīd Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) أن أي يوقال 

Hendaknya ditafsirkan ‏لا معبود بحق إلا الله‏ - _"Tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allāh"._ Itu adalah penafsiran yang benar كما سبق sebagaimana penjelasan yang telah lalu.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________________

Minggu, 07 Maret 2021

Kitāb Aqiidatut Tauhiid 🔊 Halaqah 01: Makna Syahadat Laa Ilaha Illallah

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Senin, 24 Rajab 1442 H / 08 Maret 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb Aqiidatut Tauhiid 
🔊 Halaqah 01: Makna Syahadat Laa Ilaha Illallah

____________

*MAKNA SYAHADAT LAA ILAHA ILLALLAH*


بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ ارْزُقْنيِ فَهْماً

قال الله تعالى في الكتاب الكريم : «وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون» وأحيكم تحية الإسلام تحية السنه و الجماعة
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
 
Sahabat BiAS yang kami muliakan, syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan. Kembali kita sama-sama berthalabul 'ilmi, kita akan membahas Kitāb Aqidah At Tauhīd karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan.
 

الفصل الثاني 

_Pasal yang kedua:_

في بيان معنى الشَّهادتين وما وقعَ فيهما من الخطأ،و أركانهما وشروطهما ومقتضاهما ونواقضهما

_Pembahasan terkait makna syahadat dan apa yang terkandung di dalamnya dari kesalahan-kesalahan yang terjadi, rukun apakah yang harus tertanam di dalam dua kalimat syahādat, syarat-syaratnya apa saja dan apa yang terkandung di dalamnya dan apa yang menjadi pembatal syahadatain._

أولًا‏:‏ معنى الشَّهادتين

_*PERTAMA: Makna Asy Syahādatain*_

معنى شهادة أن لا إله إلا الله‏:‏

_Makna syahādat أن لا إله إلا الله‏_

Tentunya kita mengenal bahwasanya Allāh menyebutkan:

 عَـٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ 

_Dia-lah, Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Dzat yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib dan apa yang nampak._

Terkait dengan makna syahadat, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala Beliau mengutus shahabat yang bernama Mu'ādz bin Jabbal, maka Beliau memberikan nasehat:

يا معاذ إنك تأتي قوماً أهل الكتاب، فلتكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمدًا رسول الله

_"Wahai Mu'ādz, engkau akan mendatangi suatu kaum yang mereka adalah ahlul kitāb, hal pertama kali yang hendaknya engkau ajarkan, hendaknya engkau memberi pengajaran: لا إله إلا الله و أن محمدًا رسول الله."_

Hendaknya engkau memberi pengajaran kepada mereka agar mereka meyakini bahwasanya di sana ada Dzat yang berhak untuk disembah yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan meyakini bahwasanya Muhammad adalah utusan Allāh. 

Di dalam riwayat lain dikatakan:

 إلى أن يوحدوا الله 

_Agar engkau meng-Esakan Allāh._

Makna syahadatu: أن لا إله إلا الله‏ yaitu: الاعتقاد والإقرار. 

Al 'itiqād (الاعتقاد) adalah keyakinan.
Al iqrār (والإقرار) adalah pengakuan.

Semua orang memiliki: الاعتقاد , semua orang memiliki keyakinan. Begitu kita berbicara keyakinan maka semua orang mempunyai keyakinan. 

Orang Yahudi mempunyai keyakinan, orang Nashrani mempunyai keyakinan, orang Khonghuchu mempunyai keyakinan, tetapi keyakinan mereka adalah keyakinan yang jauh dari kebenaran.

Yang dimaksud keyakinan di sini adalah:

 الاعتقاد والإقرار

_Keyakinan yang mantab (jazim, yang tidak bisa tawar menawar.)_ 

 أنه لا يستحقُّ العبادةَ إلا لله 

_Bahwasanya tidak ada yang  berhak untuk diibadahi kecuali Allāh._

 والإلتزام ذلك 

_Dan berpegang teguh dengannya._
 والعمل به 

_Dan mengamalkan dengannya._

Maka di sinilah seorang muslim begitu mengenal Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) maka dia harus memahami bahwasanya Dia-lah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, satu-satunya Dzat yang berhak dan memegang apa-apa yang menjadi hak tersebut dan beramal denganya yaitu kita persembahkan hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Maka kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) ada dua potongan yang pertama adalah: لَا إلَهَ .

Dikatakan:

نفي الاستحقاق من سوى الله للعبادة كائنًا من كان

Kita mengenal ada istilah: نفي (an nafī), nafī itu adalah peniadaan.

Dan: إثبات (itsbāt) adalah penetapan.

Dan di dalam kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) ada dua potong yang pertama adalah: لا إله .

Dikatakan:

 النفي أبلغ من الإثبات 

_Peniadan itu jauh lebih gamblang dibanding penetapan._

Maka dikatakan di dalam Al Qur'ān:

فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّـٰغُوت ...

_"Barangsiapa yang kufur terhadap thaghut..."_

(QS Al Baqarah: 256)

Thaghut adalah:

 كل ما عبد من دون الله 

_Semua hal yang disembah selain Allāh._

Maka dikatakan: لا إله memiliki arti:

 نفي الاستحقاق من سوى الله

_Meniadakan semua berhak selain Allāh._

Meniadakan semua selain Allāh untuk diibadahi, apapun bentuknya, siapapun orangnya.

Maka disinilah seorang mukmin hendaknya memahami kata-kata Lā ilāha  (لَا إلَهَ ).

Terkadang kita melihat suatu tulisan, "Tidak boleh masuk ruangan ini," siapapun tidak boleh untuk masuk ke ruangan tersebut. Kemudian ada penetapan (pengecualian) apa itu? "Selain karyawan." Maka, "Selain karyawan," dinamakan itsbāt. 

Kenapa? 

Yang berhak untuk masuk hanya karyawan.

Di dalam kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) ada kata Lā ilāha, semua bentuk peribadatan dinafīkan. Kemudian, illallāh, kecuali Allāh. 

Yaitu: إثباتٌ لاستحقاق الله وحده للعبادة  ini adalah itsbāt (penetapan). illallāh yaitu: ويؤمن بالله , beriman kepada Allāh. 

Maka disini dikatakan Allāh memberikan pernyataan: 

 فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ 

_"Barangsiapa yang khufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allāh."_

(QS. Al Baqarah: 256)

Maka semua bentuk thaghut harus kita tinggalkan.

Dan rerikutnya penetapannya: وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ , dan beriman kepada Allāh. 

Maka dikatakan: 

إثباتٌ لاستحقاق لله وحده للعبادة

_Suatu penetapan bahwasanya peribadatan itu hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata._
 
ومعنى هذه الكلمة إجمالًا‏

_Dan arti kata-kata dari barusan apa yang kita bahas adalah: إجمالًا‏, secara global._

Yaitu:
 لا معبودَ بحقٍّ إلا الله‏. 

Karena ada sebagian orang memahami dengan penafsiran atau pemahaman kurang tepat dan yang benar adalah: لا معبودَ بحقٍّ.

Yang kurang tepat yaitu: لا  موجود. Maujud adalah "ada".

Maka harus kita luruskan kata-kata Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) memiliki arti لا معبودَ بحقٍّ إلا الله‏ tidak ada dzat yang berhak untuk disembah.

Dikatakan :

  وخبر "لا" يجب تقديره‏:‏ ‏"‏بحقٍّ‏"

_Khabar "laa" maka di sini wajib ada takdir yang tersembunyi yaitu: بحقٍّ‏ (berhak)._

ولا يجوزُ تقديره بموجود

_Tidak boleh takdirnya sesuatu hal yang tersembunyi artinya: موجود._

لأنّ هذا خلافُ الواقع

_Karena sesungguhnya hal seperti ini (jika ditafsirkan dengan موجود ) menyelisihi apa yang terjadi._

فالمعبوداتُ غيرُ الله موجودة بكثرة

_Sesuatu yang disembah selain Allāh tentunya jumlahnya banyak._

Tidak dinkatakan: فالمعبود، kalau معبود maksudnya satu tapi kalai: معبوداتُ maksudnya jamak (banyak).

غيرُ الله موجودة بكثرة

_Selain Allāh banyak bentuknya (banyak macamnya)._

Ada yang menyembah berhala, ada yang menyembah pohon, ada yang meyakini bahwasanya sungai yang di sana (orang jawa bilang) ada danyang atau ada yang bahurekso, ada yang singgah, ada yang memiliki, ada yang menjaga, Subhānallāh,

Berapa banyak kaum muslimin mengatakan kalimat tauhīd Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) tapi karena keimanan yang dia miliki terbatas, bahkan mungkin kurang ilmu, akhirnya jauh dari aqidah yang haq.

Bahkan kadang karena malu bertanya kepada seorang guru, lebih menyedihkan lagi jika seorang guru tahu kemudian tidak memberikan ilmu. 

Seorang ustad atau seorang kyai tidak memberikan pengajaran sehingga masyarakat jauh dari aqidah yang haq.

Kita kadang merasa sedih seorang muslim, dia berangkat haji, dia berpuasa Ramadhan, dia shalat lima waktu, tetapi masih meyakini kepada sesuatu hal yang berbau syirikiyyah, berbagai bentuk kemusyrikan. 

Maka dikatakan:

فيلزم منه أن عبادة هذه الأشياء عبادة لله

_Bahwasannya  peribadatan ini (kesyirikan) pada dasarnya ditujukan untuk Allāh._

وهذا من أبطل الباطل

_Dan ini adalah suatu bentuk kebathilan yang bathil._

Seseorang menyembah kuburan karena Allāh, ini yang dimaksud. "Saya menyembah pohon ini karena Allāh."

Ini tidak benar, walaupun terkadang di sana ada doa-doa juga.

Suatu saat kami pernah berjumpa dengan seorang jama'ah, dia mengatakan:

"Pak ustadz, kami dapat warisan dari orang tua berupa keris, beliau mewasiatkan agar keris ini dijaga dan sebulan sekali harus dimandikan dengan kembang, jika tidak dimandikan dengan kembang keris tersebut akan 'modhot' (tidak masuk ke dalam sarungnya dengan sempurna)." 

Kemudian kami bertanya, "Setelah mendapatkan wasiat tersebut bagaimana?" 

Beliau menjawab, "Di awal-awal kami masih sering melakukannya, sesudah kami belajar tauhīd Alhamdulillāh keris tersebut tidak kami mandikan tetapi kami buang ke sungai."

Kemudian kami bertanya, "Apakah dengan membuang keris itu jadi jauh dari keluarga pak, adakah keluarga yang marah?" 

Beliau menjawab, "Keluarga banyak yang marah karena itu adalah warisan, tapi untuk apa saya belajar tauhīd kalau masih percaya dengan modhot atau tidak. Dan saya sampaikan bahwa warisan yang benar adalah warisan yang sesuai dengan syar'iat."

Jika keris tersebut diyakini ada kekuatan maka kami sampaikan bahwa keris tersebut tidak memiliki kekuatan, karena kekuatan hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Subhānallāh, tauhīd menghujam di dalam dada orang tersebut.

Jadi seseorang yang meyakini bahwasanya ia beribadah kepada berhala karena Allāh maka ini adalah pemahaman madzab: أهل وحدة الوجود , yaitu seseorang yang melakukan sesuatu amalan dan meyakini bahwa Tuhan sudah menyatu dengan dirinya, itulah yang disebut pemikiran: وحدة الوجود, seseorang yang meyakini bahwasanya Allāh sudah menyatu pada dirinya.

 الذين هم أكفر أهل الأرض‏

_Dan mereka adalah orang-orang yang paling kufu di penduduk bumi._

Seorang muslim hendaklah memiliki aqidah yang benar. Dia beribadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata. Tidak boleh seseorang menjadikan bahwasannya Allāh telah menyatu pada dirinya, menyatu pada berhala, menyatu pada kuburan, menyatu pada ini dan itu. 

Ini adalah pemikiran yang jauh dari kebenaran. 

Maka seorang mukmin hendaknya menjaga aqidahnya. Kita melihat bahwasanya hati ini berada dalam gengaman Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا 

_Biasa jadi seorang muslim di pagi hari dia beriman dan di sore hari dia kufur, bisa jadi seseorang di sore hari dia beriman dan pagi harinya dia kufur._

(HR Muslim)

Hendaknya kita senantiasa berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

_"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."_

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

In syā Allāh,  kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang.


السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
________________